LIWA (Lampost.co) -- Pemkab Lampung Barat didukung para desainer terus berupaya untuk mengembangkan kain bermotif celugam yang merupakan kain khas daerahnya.

Kain bermotif celugam salahsatunya berbentuk potongan-potongan kain segitiga berwarna merah, orange, hitam dan putih menyatu menjadi motif-motif unik dan antik.



Celugam itu kini mulai dikembangkan menjadi berbagai produk kebutuhan sehari hari antara lain dibuat untuk sarung bantal kursi, taplak meja, tatakan gelas, bungkus aqua, kotak tisu, tas, busana dan aneka produk lainya.

Agar celugam lebih menarik sehingga diminati banyak kalangan maka celugam kini mulai dikembangkan dalam bentuk sulam tapis dan bordir.

Salah seorang desainer dan juga staff Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lambar Dedi Edwin, Senin (30/7/2018), mengatakan celugam ini dipercaya sudah turun temurun dipakai digunakan oleh masyarakat Lambar. Hal ini juga diperkuat danya kerajaan Sekala Beghak, yang biasanya tempat duduk atau singgasana kerajaan skala beghak merupakan tumpukan kasur (susunan kasur) dengan bagian depan kasur dilapisi celugam atau biasanya disebut Pudak Palsu.

”Kasur yang digunakan untuk alas duduk oleh Suntan (raja) atau Pengantin memiliki tingkatan kasur sesuai dengan gelar si pemakai. Kemudian motif clugam  digunakan disetiap tingkatan kasur yang berbeda-beda,” kata dia.

Motif-motif celugam ini kata dia,  yakni puttut manggus, apipon, cumcok, kekeris dan lalamban. Kelima motif tersebut memiliki keunikan keunikan tersendiri dan sistem pengerjaan yang berbeda-beda dan pengerjaannya identik  lebih mendekati ke teknik patcwork (penyambungan penyambungan kain segitiga. Semua itu juga memiliki keunikan tersendiri dan motif ini tidak dimiliki okeh daerah lain.

Kini kain motif celugam ini sangat diminati yang terbukti permintaan masyarakat Lambar saat ini cukup tinggi. Pemasaran juga mulai merambah ke beberapa wilayah di Lampung.

”Selain masyarakat Lambar sendiri, permintaan celugam juga datang darI OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan. Permintaan dari kabupatrn tetangga ini bahkan sama tingginya dengan Lambar.

Untuk memasarkan kain khas Lambar itu maka pihaknya terus memperkenalkanya dan mempromosikanya, baik melalui berbagai event dan kegian-kegiatan lainya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR