BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir perlintasan kereta api atau jalur kereta api sering memakan korban jiwa akibat warga yang lalai.

Teranyar, pria tua yang meninggal setelah tersambar kereta api di perlintasan Jalan Sultan Agung bernama Laturdin (70) warga Jalan Nusantara Gang Garuda, Kota Sepang l, Labuhanratu, Sabtu (2/2/2019). Diduga pria renta tersebut berjalan dengan meniti rel kereta api dan mengalami gangguan pendengaran karena usia yang sudah tua.



Sebelumnya pada (15/10/2018) seorang pria yakni Usup (81) warga Dusun Tanjungrejo, Desa Natar, Kecamatan Natar Lampung Selatan juga tertabrak kereta api Babaranjang. Ia meninggal dunia usai tertabrak kereta api Babaranjang di jalur kereta yang berada di Desa Natar, Kecamatan Natar.

Kecelakaan lainnya menimpa Agus Pramudita Ananta (35) warga Gang Sumber, Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang. Ia tertabrak di perlintasan kereta yang berada di Jalan HOS Cokroaminoto, Kebon Jeruk, Enggal, tepatnya di belakang SMA Arjuna, Rabu (17/10/2018).

Manager Humas PT KAI Divre IV TanjungKarang Sapto Hartoyo tak bisa berbuat banyak. Pasalnya segala macam upaya sudah dilakukan. Pertama, menguatkan dan menjalankan sosialisai kepada masyarakat, terkait bahaya berjalan di rel kereta api, melintasi perlintasan tanpa palang pintu, hingga melewati jalur tikus yang dibuat oleh warga. Kedua, penyisiran jalur sudah dilakukan secara berkala oleh Polsuska.

"Sebenarnya berdasarkan Pasal 181 Ayat (1) UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, menyatakan setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api. Bahkan di Pasal 199 UU tersebut, warga bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp15 juta. Tapi tak pantas kita menyalakan warga. Kita tetap mengutamakan sosialisasi dan pengecekan serta penyisiran," ujarnya, Minggu (3/2/2019).

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR