WAWASAN keislaman dan keindonesian menjadi sebuah pakem dalam proses pembentukan sumber daya muslim Indonesia. Di tengah arus post-modernis, HMI yang telah berumur 71 tahun menjadi salah satu kontributor yang konsisten memberikan pemikiran dan tindakan nyata dalam pembangunan di negeri ini.

Perjuangan HMI tentunya sebagai bentuk perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kezaliman (perjuangan kelas). Formulasi penyelesaian dari semua permasalahan tersebut yaitu melalui pendidikan nonformal terhadap kader atau anggota HMI, sehingga mereka bertindak sebagai misionaris intelektual dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah swt.



Di usia yang semakin renta, HMI telah memiliki ratusan ribu kader yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Setidaknya, telah tercatat sekitar 6 juta alumnus, 600 ribu kader, dan 215 cabang se-Indonesia. Sebagai sebuah tugas pembantuan, pengurus cabang yang berada di tingkat daerah masing-masing terdiri dari komisariat-komisariat perwakilan setiap fakultas dan/atau universitas suatu daerah membantu pengurus besar HMI dalam menjalankan misi kemanusiaan.

HMI Bandar Lampung

Tentunya, sudah menjadi kewajiban bagi HMI Cabang Bandar Lampung sebagai salah satu dari sekitar 215 cabang se-Indonesia yang mempunyai tanggung jawab moral untuk berpartisipasi aktif mendorong lahirnya generasi intelektual muslim, karena HMI lahir sebagai jawaban, bukan pertanyaan.

HMI Cabang Bandar Lampung sudah berdiri sejak 29 Juni 1961 lalu. Tentunya, dalam perjalanan yang cukup panjang ini, HMI Bandar Lampung telah mengalami berbagai fase perjuangan. Hingga saat ini tetap berdiri kokoh sebagai jantung dan gerbangnya pengaderan sehingga menjadi percontohan bagi cabang-cabang lain.

Pencapaian terbaik bagi HMI Cabang Bandar Lampung yaitu terpilihnya Arif Musthopa sebagai ketua umum PB HMI periode 2008—2010. Ia adalah ketua umum HMI Cabang Bandar Lampung periode 2002—2003 yang berasal dari HMI Komisariat Sosial dan Politik Universitas  Lampung.

HMI Back to Campus menjadi sebuah platform yang digagasnya menjadi cerminan bagi identitas kader HMI di Bandar Lampung atau dengan kata lain bahwa pencapaian tersebut diperoleh melalui proses pengaderan yang panjang dimulai dari komisariat, cabang, hingga pengurus besar.

Catatan untuk HMI

Saat ini, HMI Cabang Bandar Lampung yang dinakhodai Yefri Febriansah telah berada di ujung tanduk. Dalam keberlangsungan organisasi, dia telah melakukan berbagai langkah progresif dalam membangun sumber daya muslim yang tergabung di dalamnya. Beberapa program kerja terus mengusung misi keumatan, seperti menjadi salah satu motor dalam aksi bela Islam 212.

Dalam bidang pengaderan, HMI Cabang Bandar Lampung telah membentuk lembaga pengembangan profesi (LPP) dan cabang persiapan di berbagai daerah yang mempunyai potensi untuk dijadikan cabang seperti Pringsewu, Kalianda, dan Way Kanan, serta pendirian dan pemekaran HMI Komisariat FEBI IAIN Raden Intan. Hal ini menjadi suatu prestasi yang membanggakan di era kepemimpinannya. Sebagaimana dikatakan sejarawan HMI, Agus Salim Sitompul, pengaderan HMI bagaikan air yang keluar dari mata air, sehingga kejernihannya dapat mengurai kotoran di sekitarnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, ghirah dalam menjadikan HMI sebagai problem solver seakan-akan tergerus beberapa kader yang bersifat pragmatis bahkan oportunis. Hal ini yang menjadikan trouble maker dalam tubuh HMI Cabang Bandar Lampung itu sendiri. Dari berbagai pencapaian dan prestasi yang sudah ditorehkan tersebut, dinodai dengan regresivitas dalam sebuah kebijakan organisasi. Jika ditelaah, setidaknya ada beberapa catatan penting bagi kader HMI Cabang Bandar Lampung melihat berbagai fenomena yang terjadi hari ini.

Pertama, dimulai dari mundurnya waktu suksesi konfercab. HMI Cabang Bandar Lampung telah menjalankan roda kepengurusan selama 21 bulan terhitung sejak 5 Agustus 2016. Kurun waktu tersebut tentunya telah melewati limitasi masa kepengurusan yang diatur dalam konstitusi yakni 18 bulan.

Kedua, terjadi rangkap jabatan yang dilakukan Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung Yefri Febriansah. Berdasarkan SK Ketua Umum Pengurus Besar HMI tentang Susunan Pengurus Besar HMI Periode 2018—2020 No. Istimewa/KPTS/K/08/1439 tanggal 29 Maret 2018, Yefri Febriansah menjabat sebagai wasekjen Bidang Eksternal PB HMI Periode 2018—2020 di bawah pimpinan Ketua Umum Respatori Saddam Al-Jihad. Sementara status Yefri Febriansah masih menjabat sebagai ketua umum HMI Cabang Bandar Lampung.

Ketiga, Pengurus HMI Cabang Bandar Lampung telah melakukan tindakan maladministrasi. Pendirian dan pemekaran Komisariat FEBI IAIN Raden Intan Lampung diatur dalam Pasal 40 Ayat (1)—Ayat (6) Anggaran Rumah Tangga HMI. Artinya, dari keseluruhan ayat di dalam Pasal 40 tersebut berlaku mutatis mutandis syarat administrasi dan faktual.

Evaluasi

Dalam konteks ini, Pengurus HMI Cabang Bandar Lampung seharusnya belajar dari beberapa masa kepemimpinan pengurus terdahulu baik dari segi kelebihan dan kekurangannya, sehingga dapat dijadikan acuan keberlangsungan masa kepengurusan membawa HMI setitik lebih maju bukan justru mengalami kemunduran.

Pelanggaran terhadap konstitusi HMI adalah perbuatan yang tidak mencerminkan sosok kader HMI yang menjunjung tinggi dan menghargai konstitusi yang dibuat agar kehidupan kelembagaan HMI tertata dengan baik. Hal tersebut juga selaras dengan pengejawantahan sebuah nilai yang terkandung dalam falsafah hidup orang Lampung, piil pesenggiri, yang mengandung makna prinsip kehormatan.

Kedaulatan tertinggi HMI berada di tangan anggota biasa. Maka, PB HMI selaku penerima kedaulatan tersebut dan memiliki otoritas tertinggi yang menaungi HMI di tingkat cabang. Maka, PB HMI harus membuka mata untuk melihat dan membuka telinga untuk mendengar bahwa ketiga permasalahan tersebut tersebut sebagai permasalahan yang sangat prinsipil.

Nyatanya, fenomena ini menunjukkan dua bulan terhitung sejak dilantik, Respiratori Saddam Al-Jihad belum memperlihatkan sepak terjangnya dalam perjalanan seratus hari kerja sebagai ketua umum. Seharusnya, langkah awal dalam kepemimpinannya, salah satunya adalah mendata cabang-cabang yang telah melewati masa aktif kepengurusan sebagaimana diatur dalam konstitusi untuk ditindaklanjuti sesuai aturan.

Oleh karena itu, PB HMI harus mengaretaker HMI Cabang Bandar Lampung demi tegaknya konstitusi dengan nyata sebab secara etis dan yuridis dari ketiga permasalahan yang terjadi di HMI Cabang Bandar Lampung telah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan konstitusi HMI (AD/ART) yang menyebabkan keberlakuan dari konstitusi menjadi mati.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR