SETIAP hari disuguhi oleh asap yang menggantung tidak mau pergi di kota ini. Meskipun mengenakan masker dan kaca mata untuk beraktivitas di ruangan terbuka, toh masih saja menyesakkan dada dan membuat mata perih.

Itu cerita seorang rekan yang bertugas di wilayah Pekanbaru dalam tulisan di media sosial: Saya di Pekanbaru Kota seperti menjadi Manusia Asap.. indah di foto bak lukisan, sesak bernapas hingga paru-paru tak sehat... pusing kepala karena asap yang terhirup.... kapankah kondisi ini berakhir. Kami ingin sehat.



Status ini, amat menggelitik saya untuk menelisik lebih lanjut dan memberikan komentar. Tak bisa dibayangkan, bagaimana bisa hidup bersama asap yang menari-nari setiap saat. Saya yang melintasi bakaran sampah saja sempat misuh-misuh, langsung menutup hidung dan mengerjapkan mata beberapa kali karena perih. Apalagi itu setiap saat.

Apalagi, rekan saya tadi menyebut banyak di antara warga yang tak menggunakan masker ketika berada di luar ruangan terbuka. Bukannya mereka tak peduli kesehatan diri, melainkan karena tidak mampu lagi membeli masker yang baru, sedangkan masker yang lama sudah koyak dan tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Duh, sungguh menyulut hati. Setiap warga pasti ingin menghirup udara segar yang telah diberikan secara gratis oleh Sang Pencipta. Namun, karena ulah segelentir orang, baik yang disengaja ataupun tidak, telah meluluh lantakan lahan dan hutan yang tengah meranggas.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutala) memang menjadi momok setiap tahunnya saat kemarau. Seharusnya memang ada tindakan tegas dari upaya ini, bukan pembiaran. Bukan hanya ditangkap segelentir, lalu dibebaskan begitu saja. Ataupun kalau dihukum, amat ringan sekali.  Ini jelas tak imbang dengan kerusakan yang ditimbulkan.

Bahkan, laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) paling mutakhir menyatakan kita hanya punya waktu 12 tahun bila ingin bisa menjaga kenaikan suhu pada maksimal 1,5 derajat Celsius di 2100.  Kalau di 2030 kita tidak bisa memotong emisi sebesar yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan itu, umat manusia bakal kesulitan untuk bisa membuat kondisi kehidupan yang baik.  

Kesadaran harus segara ditanam dalam setiap otak manusia untuk menjaga alam dan lingkungan kita demi menghindari kondisi yang sangat buruk untuk anak-cucu kita kelak. Sebab, jangan sampai terjadi  seperti yang diramalkan oleh sastrawan besar Kurt Vonnegut, kita cuma bakal menulis di batu nisan Bumi yang mati : ‘We could have saved the Earth, but we were too damned cheap.’ ***

 

 

 

 

 

 

 

 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR