KALIANDA (Lampost.co)--Menggiling ikan menjadi keseharian Rofi di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Dermaga bom, Kalianda, Lampung Selatan.

Pria berusia 28 tahun itu semangat menggerus ikan di tengah keramaian pengunjung Dermaga Bom. Apalagi, sudah banyak pelanggan yang menantinya. Usaha yang penggilingan ikan untuk bahan pempek, bakso dan otak-otak baru berusia sekitar 10 bulan, tetapi sudah dikenal para pembeli. 



Sebelumnya, hanya penjual ikan di lapak yang sama, hingga akhirnya ia menjual ikan giling. Berusaha tidak hanya menjalani aktivitas seadanya, melainkan harus berinovasi, agar bisa terus bertahan dengan semua keadaan. 

Ikan giling yang dijualnya cukup unik, pembeli bebas memilih ikan yang akan digiling. Selanjutnya proses penggilingan manual dengan menggunakan alat dan kedua tangan dilakukan di depan pembeli. 
"Mungkin karena proses penggilangan didepan mata mereka, maka para pembeli mengaku puas, kalau ikannya masih segar," kata dia. 

Walaupun penjual ikan di PPI Dermaga Bom Kalianda tidak hanya dirinya, akan tetapi pelayanan merupakan kepuasan tersendiri bagi pelanggan. 

Rata-rata dalam sehari sepuluh kilogram ikan giling terjual dan tidak termasuk pesanan dari pelanggan tetap yang setia membeli tiap petang. 
"Buka lapaknya dari jam tiga sore sampai sebelum magrib," ujarnya. 

Harga ikan giling yang dijualnya sangat bergantung kepada harga ikan laut itu sendiri. Kebanyakan ikan yang digiling jenis Parang dengan harga Rp40 ribu/kg dan Jolot Rp35 ribu. "Kebanyakan dua jenis ikan itu yang banyak di beli," kata dia. 

Untuk ikan giling paling banyak diburu pembeli ikan Tenggiri, namun jenis tersebut sangat bergantung dengan musim, serta harga yang lumayan tinggi. "Kalau ikan Tenggiri harus pesan dulu sebelumnya karena harga yang tinggi," katanya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR