BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan jual beli bangku kuliah di Unila kembali bergulir di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Kamis (8/11/2018).

Dipersidangan Jaksa Penuntut Umum Adhi Putra menghadirkan oknum dosen Fakultas Hukum Unila Widya Krulinasari untuk diperiksa sebagai terdakwa.



Dalam perkara ini terdakwa diduga melakukan penipuan atas jual beli bangku kuliah fakultas kedokteran. Dengan nilai Rp350 juta terhadap korbannya Richard Sagala. 

Widya dalam kesaksiannya mengatakan, awalnya diminta oleh Franscis, keponakan Richard untuk membantu anak pamannya itu bisa lulus tes SBMPTN 2017 dan masuk ke fakultas kedokteran, "Saya awal kenal Frans sebelumnya rekan bisnis leasing mobil," kata Widya dalam persidangan.

Untuk memuluskan aksiknya, Widya menghubungi seorang petugas di Puskom Unila bernama Nilamto. Meski tahu Nilamto tidak masuk ke dalam kepanitiaan SBMPTN Unila 2017 dirinya tetap yakin Nilamto bisa meluluskan Richard.

Kepada Hakim ketua Syamsudin, Widya membenarkan jika memang penentuan diterima atau tidaknya ada di Kemenristekdikti. Lembar jawaban SBMPTN calon mahasiwa yang dijawab melalui online itu dikirim oleh Rektor ke Kemenristekdikti untuk dinilai. "Lembar jawabannya itu dikirim ke pusat (Kemenristekdikti). Nanti sama mereka itu dikirim lagi melalui komputerisasi ke Unila. Nah Disitulah, peran Nilamto," ujarnya.

Dia mengatakan jika Nilamto meminta uang cash ke dirinya sebesar Rp 110 juta sebagai jaminan. "Ini diluar uang buku tabungan yang berisi saldo Rp175 juta," kata dia. Uang dari Richard tadi kemudian diserahkan ke Nilamto. Sementara sisanya dia pegang sebagai jaminan. Namun, bukannya masuk ke fakultas kedokteran, korban justru masuk ke dalam fakultas pertanian. 

Ia mengatakan, dirinya sudah mengembalikan uang milik Richard sebesar Rp65 juta. Sisanya belum dikembalikan sebab uang masih berada ditangan seseorang bernama Nilamto itu.

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR