Jakarta (Lampost.co): Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menyiapkan kejutan besar pada pemerintahan periode kedua. Jokowi yang mengeklaim memimpin tanpa beban elektoral pada 2024 menegaskan akan ada perbedaan gaya kepemimpinan.

"Berbedanya di sebelah mana? Ya dilihat nanti," kata Jokowi kepada Metro TV, Senin malam, 19 Agustus 2019.



Presiden ke-7 Indonesia hanya menegaskan para pembantunya harus bisa mengikuti kecepatan dan ketepatan bekerja. Ia tak mau menteri 'mencla mencle' yang kurang sigap sejak perencanaan hingga eksekusi program.

Ia terang-terangan menginginkan menteri yang bisa berperan sebagai eksekutor. Mereka yang nantinya menjabat juga harus memiliki kematangan pengalaman manajerial.

"Karena ini mengelola sebuah manajemen ke depan, tata kelola kementerian menjadi jelas bagaimana merencanakan sebuah program bagaimana mengorganisasinya, kemudian melaksanakannya di lapangan," beber Jokowi.

Pembantu presiden, terang Jokowi, wajib mengawasi jalannya program hingga tuntas. Ia membebaskan menteri menggunakan sistem dan platform apa pun dalam fungsi pengawasan.

Di sisi lain, Jokowi meyakini calon pembantunya mampu mengikuti ritme kerja Kepala Negara. Menteri dari profesional maupun partai politik diyakini bekerja maksimal.

"Bisa memberikan kontribusi besar bagi pembangunan memajukan Negara ini," ucap dia.

Keseriusan Jokowi mengubah gaya kepemimpinan juga akan dituangkan melalui pemberian indikator kinerja utama (key performance indicator, KPI) . Artinya, setiap menteri harus memenuhi itu.

"KPI enggak usah banyak-banyak. Satu, dua, tiga, cukup, tetapi itu bisa diselesaikan, sudah menjadi sebuah pencapaian atau prestasi," ujar dia.(Nuansa Islami)

EDITOR

sjaicul

TAGS


KOMENTAR