PRESIDEN Joko Widodo meminta sukarelawannya kampanye dengan cara yang baik pada Pilpres 2019. "Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani."

Ucapan Jokowi di depan gabungan sukarelawan di Sentul, Sabtu (4/8/2018), yang menginginkan semua prakondisi suasana damai tapi harus tetap siap dan berani menghadapi segala kemungkinan, merupakan ekspresi peribahasa Latin "Si vis pacem para bellum" (Siapa yang menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang).



Jokowi lebih dahulu mengemukakan secara panjang situasi dan kondisi yang ideal untuk diwujudkan dalam masa kampanye Pilpres 2019, yakni tidak ada permusuhan, tidak ada ujaran kebencian, tidak ada fitnah-fitnah, tidak ada cela-mencela (caci maki), dan tidak ada saling menjelekkan. Tapi segala risiko untuk mewujudkan kondisi ideal tersebut harus diantisipasi (Si vis pacem para bellum).

Peribahasa itu dikutip dari penulis militer Romawi, Flavius Vegetus Renatus sekitar tahun 400 Masehi dalam kata pengantar De Re Militari. Namun ide pokok perkataan itu sudah ditemukan dalam Undang-Undang VIII (Nouoi 4) Plato tahun 347 Sebelum Masehi dan Epaminondas 5 Cornelius Nepos. (Wikipedia)

Prinsip "Si vis pacem para bellum" masih dipegang teguh dan diamalkan secara global oleh masyarakat modern masa kini, di mana untuk menciptakan perdamaian dunia, negara-negara mempersenjatai diri secara lengkap (hingga punya senjata nuklir) dan militer yang siaga 24 jam sehari, tujuh hari sepekan.

Semua kesiapan (untuk berperang kapan saja itu) dimaksudkan bukan untuk berperang atau melakukan serangan, tapi semata untuk menjaga perdamaian bagi semua. Dengan semua dalam kondisi siaga, yang lain tak bisa sesukanya mengganggu keamanan dan ketenangan negara lain. Tepatnya dengan Si vis pacem para bellum, orang menjadi segan untuk mengusik atau mengganggu "singa yang sedang tidur".

Demikian pula pesan Jokowi "Si vis pacem para bellum" kepada para sukarelawan kampanye pemenangannya di Pilpres 2019. Gema pesan itu tentu memantul ke pihak lain, untuk tidak membangun permusuhan, tidak membangun ujaran kebencian, tidak membangun fitnah-fitnah, tidak suka mencela dan mencaci-maki, dan tidak menjelek-jelekkan orang lain. Lebih dari itu, jangan memprovokasi dan menyulut konflik.

Begitulah mungkin "Si vis pacem para bellum" versi Jokowi dalam Pilpres 2019.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR