NEGERI ini nyata-nyata mau dibuat teler. Tidak perlu menggunakan senjata nuklir untuk melumpuhkannya, cukup mengirim sabu-sabu berton-ton. Indonesia akan menjadi bangsa pengkhayal nomor wahid karena otak anak bangsa tumpul dibuatnya. Yang pasti, negara ini menjadi pasar yang sangat potensial berbisnis narkoba dalam jaringan dunia.

Faktanya, dalam sebulan terakhir terjadi penangkapan tiga unit kapal berbendera asing yang masuk Indonesia—Kepulauan Riau. Mereka membawa sabu-sabu seberat 1,29 ton. Dua pekan kemudian, kembali menangkap kapal yang mengangkut barang yang sama sebanyak 1,6 ton. Cukup fantastis. Jumlahnya 2,9 ton yang siap membanjiri negeri ini.



Sabu-sabu seberat 0,5 gram saja sudah bisa membuat orang teler, apalagi 2,9 juta gram. Berapa banyak anak bangsa yang bisa diselamatkan dari hasil tangkapan kali ini? Barang haram itu masuk golongan metamfetamina yang bisa merusak keseimbangan otak. Itu baru sabu-sabu, belum lagi ganja, ekstasi, juga minuman beralkohol tinggi.

Mau jadi apa negara ini kalau rakyatnya hidup bergelimang narkoba? Dari bisnis gelap itu terungkap ada transaksi tindak pidana pencucian uang yang mencapai Rp6,4 triliun dari sang bandar narkoba. Itu belum termasuk jaringan yang dikendalikan dari dalam lembaga pemasyarakatan yang hampir terjadi di seluruh LP di negeri ini.

Dan sangat wajar jika Presiden Jokowi menginstruksikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Heru Winarko–pengganti Komjen Budi Waseso, agar dalam waktu singkat menerapkan standar kerja di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke BNN. Heru, yang berhasil menjadi deputi penindakan KPK sejak Oktober 2015 itu, membawa lembaga antirasywah menangkap tangan puluhan penjarah uang rakyat. 

Menurut Presiden, integritas menjadi poin yang sangat penting di BNN. Bisnis narkoba merupakan mafia yang terus menggoda penegak hukum untuk bermain-main dengan kasus. Bisnis narkotika itu memutarkan uang triliunan rupiah dari kota hingga ke desa. Dari dunia malam hingga organ tunggal. Barang haram itulah yang bisa buat orang mabuk sampai pagi!

Karo Penmas Humas Polri Brigjen Muhammad Iqbal mengakui di BNN banyak godaannya. “Pak Heru bisa menularkan integritas kinerja di KPK yang bagus untuk memperkuat BNN," kata Iqbal. Persisnya, kejahatan korupsi dan narkoba memiliki kemiripan untuk mengincar negeri ini–melumpuhkan masa depan bangsa.

Jokowi sendiri sadar bahwa Indonesia sudah masuk superdarurat narkoba. Sebab itu, BNN sudah sangat perlu dipimpin anak bangsa yang memiliki integritas dan track record yang baik. Setelah memilih orang tepercaya memimpin BNN, Presiden perlu dan segera menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) tentang darurat narkoba.

***

Penanganan narkoba di negeri ini butuh keseriusan. Ancaman barang haram itu sudah di ubun-ubun. Fakta menunjukkan dari tahun ke tahun pemakai dan pengedar tiap tahun meningkat. Tahun 2016 saja lebih dari 6 juta anak bangsa di negeri ini penikmat narkoba. Itu artinya, para mafia selalu menggoda dan menemukan cara baru memasok narkotika.

Ditambah lagi gelombang penyelundupan narkotika sudah mencapai berton-ton, bukan lagi kilogram dari berbagai negara. Ini membuktikan Indonesia dikategorikan tempat bisnis narkoba yang masih aman dan tumbuh subur.

Ketika negeri ini dibanjiri dan diserang bandar narkoba, aparat dan anak bangsa harusnya kian gagah berani dan gigih melawannya.

Tidak ada yang istimewa ketika BNN minta ditambah peralatan canggih sekelas peralatan KPK untuk memburu penjahat narkoba. Bandar saja menyelundupkan narkoba menggunakan alat supercanggih, seharusnya penegak hukum juga diberikan senjata lebih canggih lagi serta kewenangan yang lebih besar untuk melumpuhkan bandar barang haram tersebut.

Bandar akan tertawa terbahak-bahak ketika aparat menggunakan motor getek dan senapan angin memburu penjahat narkoba. Apalagi penegak hukum masih bisa dibeli bandar untuk meringankan hukuman. Tidak ada gunanya peraturan atau undang-undang yang hebat dibuat parlemen jika daya jelajah dan tempur aparat masih bisa dimainkan bandar narkoba.

Saatnya bangsa ini bangun dari tidur untuk memerangi narkoba. Tidak ada gunanya kewenangan lebih dimiliki BNN, tapi lembaga itu masih diobok-obok bandar agar tidak berdaya. Contohnya? Masih ada dan banyak LP memelihara narapidana yang mengendalikan bisnis narkoba dari balik penjara melalui telepon dan kurir. Saatnya seperti Perang Bubat, pimpinan Gajah Mada melawan bandar narkoba melalui serangan darat dan udara.

Apalagi sebagian besar ulama di negeri ini sudah berpendapat perang melawan narkoba harus menjadi bagian dari jihad fi sabilillah karena dampaknya sudah sangat merusak mental, otak, dan raga anak bangsa. Perang fi sabilillah bukan isapan jempol, melainkan harus dilakukan terarah dan masif untuk menyelamatkan bangsa yang berpenduduk mayoritas muslim.

Kini, di tangan Heru Winarko sebagai komandan harus membawa BNN tampil lebih garang dari Buwas untuk menghabisi bandar narkoba. Seperti halnya di KPK, dia memburu dan membui banyak koruptor, dan ketika menjabat kapolda Lampung dia pun membuat senjata bernama Rembuk Pekon yang mampu menghalau konflik komunal dari Bumi Ruwa Jurai. ***

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR