BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lima terdakwa perdagangan kulit harimau Sumatera Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), didakwa Jaksa Penuntut Umum dengan pasal 21 dan 40 UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya hewan yang dilindungi. Kelimanya terdakwa yakni Sugiyanto, Untung, Saripudin, Poniman, dan Ahmad Irvan. Hal ini terungkap dipersidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (28/8/2018).

Jaksa Sabi'in, menjelaskan bahwa dalam UU dilarang menangkap, menyimpan, melukai, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa dilindungi. Atau bagian tubuh satwa yang dilindungi.



Sabi'in mengatakan, perbuatan mereka berawal dari Maret 2018. Poniman dan Untung memasang enam jerat di kawasan TNBBS yang ada di Dusun Sinar Ogan, Pekon Tampang Muda, Tanggamus. Empat jerat dipasang dari tali nilon, dan dua jerat dibuat dari tali kopling motor. Pada April, salah satu jerat berhasil menjerat seekor harimau Sumatera. Sugiyanto memberitahu Poniman. 
Selanjutnya Terdakwa Poniman kemudian memerintahkan Sugiyanto menembak harimau tersebut dengan senjata api rakitan.

"Mengetahui harimau mati, Poniman kemudian memasukkan harimau itu kedalam karung. Sugiyanto, Poniman dan Untung kemudian menguliti harimau itu. Setelah 15 hari disimpan, Untung bertemu dengan Saripudin. Ia kemudian menawarkan kulit, kuku, tulang dan taring dan kulit harimau itu ke Saripudin. Ia kemudian bersedia untuk mencarikan calon pembeli," kata Jaksa.

Lalu pada Mei, Saripudin datang untuk menanyakan jual beli itu. Saat itu, Saripudin berbicara dengan Poniman terkait harga satwa tersebut. Poniman memberi harga untuk seluruh anggota tubuh satwa dilindungi itu seharga Rp20 juta. 
"Saripudin lantas menawar dengan harga Rp17 juta. Setelah negosiasi selesai, Poniman dan Untung menyerahkan binatang itu ke Saripudin ia membayar Rp13 juta terlebih dahulu," ujaran Jaksa.

Hasil uang penjualan itu  mereka Bagi-bagi Poniman mendapat jatah Rp6 juta, Untung dan Sugiyanto mendapat bagian hasil penjualan sebesar Rp4 juta dan Rp3 juta.  Dari hasil pemeriksaan kantor seksi III Lampung Balai Konservasi Sumberdaya Alam Bengkulu mengakibatkan kepunahan satwa dilindungi dan harimau sumatera tidak dapat dinilai dengan uang. Karena harimau rantai makanan sehingga menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem di alam. 

"Hasil uji laboratorium sampel EST-18-0007-001 tidak dapat dipungkiri sampel tersebut merupakan panthera tigris sumatrae," kata Jaksa Sabi'in.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR