ADA yang menarik di tengah-tengah ujian terbuka promosi gelar doktoral Pemimpin Redaksi Lampung Post di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Kamis (31/8).

Profesor Sudjarwo melontarkan pernyataan menggelitik terkait jurnalis jaman henow (kekinian, red). Menurutnya, kekuatan jurnalis kekinian terletak pada “jempol saktinya”. “Sekarang bukan mulutmu harimaumu lagi. Tapi, ujung jarimu harimaumu,” ujar guru besar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung tersebut.



Pakar pendidikan itu mencoba menganalogikan bahwa jurnalis kekinian dapat tergelincir jika tidak berhati hati menggunakan jempolnya kala mengetik berita melalui layar gawai pintarnya.

Namun, di era sosial media kian merajalela laku produksi reproduksi informasi tak lagi milik insan jurnalis semata. Belakangan lahir jurnalisme warga meramaikan jagat warganet.

Celakanya, lantaran tidak dibekali pemahaman jurnalistik yang memadai tidak sedikit pelaku jurnalisme warga ini terperangkap dalam pusaran berita-berita dusta nan menyesatkan.

Itulah adanya. Dikutip dari viva.co.id, sejak lahirnya UU Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE yang diatur dalam UU No. 11/2008 banyak jadi pesakitan karena jempolnya.

Berdasarkan laman tersebut, sampai saat ini sudah ada 205 kasus menjerat warganet dan pengguna layanan digital di Indonesia. Penyalahguna ujung jari pun berujung petaka.

Tidak hanya itu, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap 18 tersangka kasus penyebaran berita bohong alias hoax dan ujaran kebencian alias hate speech.

Para tersangka itu melancarkan aksinya menggunakan berbagai platform akun sosial media. Penangkapan itu terakumulasi hanya dalam kurun waktu dua bulan dari Januari hingga Februari 2018.

Begitulah. Melonjaknya pengguna internet di Tanah Air hingga 146 juta lebih menjadikan jagad maya menjadi entitas penting. Ia menjadi positif atau negatif amat bergantung pada penggunanya.

A man behind the gun” begitulah pepatah lama berujar. Jadi, jika ingin selamat dan tak tersangkut masalah hukum kala bersosmed, bijak-bijaklah menggunakan ujung jempolmu. Tabik pun.

 

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR