GELIAT film indie Lampung makin menunjukkan eksistensinya. Tidak hanya di kancah nasional, bahkan internasional. Hal ini bisa dibuktikan dari kian menjamurnya sineas muda asal Lampung yang mengikuti berbagai festival di mancanegara. Satu di antara sejumlah komunitas film indie itu seperti yang dilakukan Komunitas Film Indie Lampung yang disutradai Riskon Agustia Pasha sekaligus founder Komunitas Film Indie Lampung.

Sekretaris Komunitas Film Indie Lampung Doni Andika mengungkapkan, Komunitas Film Indie Lampung terbentuk sejak 2010. Ia menjelaskan komunitas ini menjadi wadah bagi orang yang ingin belajar dan menyalurkan kreativitas perfilman.



Komunitas ini tercatat telah merilis 20 film indie. Komunitas Film Indie Lampung juga sukses mengikuti berbagai festival baik tingkat nasional maupun internasional. Di antaranya festival film di Florida tahun 2017, Festival Trailer Labuhan Cinta Bersyarat pada 2016, Eagle Award Metro TV masuk lima besar pada 2014, dan penampil terbaik di film Manifesto Gambus di Akatara, Jakarta pada 2017.

Dalam waktu dekat, Komunitas Film Indie lampung segera menyelesaikan proyek film fiksi berjudul Ayudia dan Jalan Pulang. Doni juga menjelaskan semua hasil film yang telah diproduksi selama ini mengangkat dan mengeksplorasi keindahan kekayaan, wisata, dan alam Lampung, khususnya di Pesawaran. Film tersebut ditargetkan akan dirilis tahun ini.

 

Fiksi

Jika di awal 2010 komunitas ini banyak mengangkat film dokumenter, kini mereka beralih ke film fiksi. Semua itu tidak terlepas dari tuntutan pasar. Sebab, film dokumenter lebih sedikit peminat. Untuk itu sesuai dengan tujuan awal pembuatan film, yakni menghibur, komunitas ini beralih ke film fiksi.

"Film fiksi semua orang suka dan lebih banyak nilai hiburannya. Kemudian, kekayaan di Lampung kami angkat di sini seperti adat istiadat, budaya, sampai wisatanya," kata dia di lokasi syuting di Pesawaran beberapa hari lalu.

Doni tetap optimistis jika film indie Lampung terus menunjukkan geliatnya. Salah satunya dengan produksi film yang mulai ke arah komersial. Menurutnya, agar film indie Lampung bisa menembus pasar global, sineas harus banyak mencari referensi, dan informasi di internet. Sebab, kecanggihan teknologi sangat berpengaruh dan menjadikan akses lebih mudah.

Doni juga menerangkan perkembangan film lokal di lampung kian apik karena kini banyak tempat yang memfasilitasi. Misalnya, jurusan di SMK, maupun perguruan tinggi telah mempelajari bagaimana memproduksi suatu film. Ia menambahkan satu-satunya tantangan dalam pembuatan film indie terkait pendanaan. Doni berharap ada produser yang bisa membiayai sehingga film lokal bisa masuk bioskop.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR