BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Bersamaan dengan putusan sidang Mahkamah Konstitusi tentang sengketa piplres, padai Kamis (27/6/2019), Subdit V Tindak Pidana Cybercrime  Ditreskrimsus Polda Lampung menangkap pelaku ujaran kebencian.

Pelaku bernama Bar (49), Warga Jalan Padat Karya, Gang Rembulan, Desa Fajar Baru, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, ditangkap di kediamannya pada siang hari.



Plt Kasubdit V Cybercrime Ditreskrimsus Polda Lampung, Kompol Rahmat Mardian mengatakan, penangkapan pelaku bermula adanya laporan informasi dari Mabes Polri, akun Facebook provokatif dan ujaran kebencian bernama Marjukie Kiem.

Dalam postingannya pada 12 juni 2019, ia mengungg gambar Presiden RI Joko Widodo, Kapolri Jenderal M. Tito Karnavian, ketua DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja purnama (Ahok),  Jenderal TNI purnawirawan Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.
Foto para tokoh tersebut diberikan status yakni "perusak demokrasi rakyat Indonesia... Boneka Cina Komunis yang ingin memurtadkan rakyat Indonesia, ternyata agama mereka ini hanya kedok belaka."

Selain itu masih banyak postingan lainnya, yang berbentuk fintah dan hate speech. Ternyata setelah diselidiki, ia memiliki dua akun Facebook lain yakni, TBbarmawi AR, dan Mawi-mawi. Seluruh akun tersebut, digunakan untuk mengeshare ujaran kebencian di sosial media.
"Setelah kita selidiki lebih dalam, ada ujaran kebencian ke pemerintah, presiden maupun Kepolisian," ujarnya di Mapolda Lampung, Kamis (27/6/2019).

Pihaknya tidak serta merta langsung menangkap pelaku, upaya penyelidikan sudah dijalankan, memeriksa beberapa saksi, termasuk saksi ahli bahasa dan ahli IT.
"Baket-baketnya, sudah kita dapatkan sehingga kita lakukan penangkapan untuk diperiksa, dan cukup alat bukti katanya.
Rahmat belum bisa memaparkan, apakah pelaku hanya buzzer, atau creator, atau aktor intelektual yang tergabung dalam jaringan.

"Hal itu masih kita dalami, tapi yang kita utamakan ada upaya ujaran kebencian dan alat bukti sudah terpenuhi," kata katanya.

Pelaku dijerat pasal 45 a ayat (2) junto pasal 28 ayat 2, Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang Undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman pidana 6 tahun penjara.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR