KALIANDA (Lampost.co)--Setelah sulit mendapatkan bibit saat musim tanam lalu, kini para petani di Lampung Selatan, mengeluhkan anjloknya harga jagung di beberapa kecamatan yang terpatau harga berkisar Rp2.000-2.100/kg. Padahal harga sebelumnya mencapai Rp3.000 lebih/kg.

Dengan harga seperti saat ini, maka tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan para petani selama menanam jagung hingga panen. "Dari awal tanam jagung kami dihadapi dengan kesulitan mencari bibit," kata Sudar (51) petani di Kecamatan Way Panji, Kamis (25/1/2018).
Setelah mendapatkan bibit jagung dengan harga yang tinggi, petani dihadapi dengan harga yang sangat rendah. "Pada waktu itu bibit sulit, meskipun ada harganya tinggi, tapi terpaksa kami beli," ujarnya.



Hal senda diungkap dengan petani jagung di Kecamatan Sidimoulyo, jika harga jagung saat ini membuat para petani merugi. "Ketika akan menanam kami sudah dihadapi dengan sulitnya bibit, cuaca tidak menentu dan hama," ujar Warno.
Dijelaskannya, tanaman jagung merupakan komoditas utama para petani setempat. Sehingga risiko apapun harus dihadapi para petani setempat.
"Kami harap pemerintah bisa mengendalikan harga jagung agar sesuai yang kami harapkan," ujarnya.
Terpisah, Kepala UPT Dinas Pertanian dan Tanam Pangan Kecamatan Sidomulyo, Didik menjelaskan saat ini Lahan Tambah Tanam (LTT) meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sehingga hasil panen ikut meningkat seiring dengan LTT bertambah. "Hasil panen tahun ini cukup bagus karena tidak terserang hama," kata dia.
Fenomena harga jagung saat ini, kata dia, masih relatif normal, belum begitu anjlok. Selain itu, harga jagung tersebut, kering panen bukan kering giling, sedangkan Harga Pokok Pemerintah (HPP) berkisar Rp3.100-3.500/kg."Harga segitu jagung kering panen, bukan kering giling," ujarnya.
Dijelaskannya, jika pemerintah menganjurkan para petani tidak fokus dengan satu tanaman saja."Sebaiknya tidak fokus dengan satu tanaman saja," ujarnya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR