PADA awal abad ke-19 seorang staf kolonial Belanda, Du Bois, menerima surat dari Abung mengenai Sekala Bkhak, tempat tinggal mereka dahulu. Dia mendapat kabar bahwa wilayah ini terletak sejauh 14 jam perjalanan dari laut Ranau. Pantai dari laut ini harus dilewati hanya dari wilayah pedalaman timur laut dan tenggara.

Pada jarak yang dijelaskan ternyata terdapat dataran rendah Way Robok di arah tenggara. Dari sana, begitulah Du Bois mendapat informasi asal orang Lampung, terutama Orang Abung. Di waktu bersamaan, ada petunjuk lain di surat tersebut bahwa Pasemaher pastinya masuk melalui wilayah utara laut Ranau dan mengusir orang Lampung asli dengan kekerasan.



Perlu diketahui bahwa seluruh suku Paminggir, Lampung Selatan, ternyata bukanlah orang Lampung asli—seperti yang nanti akan dijelaskan—sehingga hanya tersisa dua kelompok suku Pubian dan Orang Abung sebagai orang Lampung asli. Kenyataannya mereka adalah Orang Abung yang juga menempati wilayah barat laut pantai Ranau. Di wilayah barat laut di lereng pegunungan tidak jauh dari laut Ranau terdapat dataran luas yang dihuni oleh suku Melayu sejak dahulu kala.

Nantinya muncul kemungkinan mengenai cerita dari masing-masing suku yang kini menempati wilayah barat tersebut. Nenek moyang suku ini dulunya mengusir Abung lama dari daerah tersebut. Hal ini mengenai daerah yang cukup kecil di bagian utara tempat tinggal Orang Abung yang ditarik jarak linear antara pesisir dan kemiringan paralel pegunungan Bukit Barisan sejauh 40—50 km.

Di bagian selatan menemui laut Ranau sehingga 15 km ke pesisir dan wilayah ini membatasi ke arah tersebut. Di bagian utara ditetapkan batas secara arbitrer. Bagaimanapun juga, tidak terdapat petunjuk bahwa Orang Abung kala itu menempati daerah aliran sungai Air Padanggutji ke arah barat laut.

Keseluruhan wilayah ini merupakan pegunungan yang puncak tertingginya melebihi 2.500 meter. Tak seorang pun menghuni wilayah tersebut. Gunung yang lerengnya berada di Samudera Hindia, biasanya tingginya 100 hingga 200 meter. Pegunungan tersebut hingga kini tidak dihuni manusia.

Seluruh permukiman penduduk yang mencakup 19 marga ini berada di daerah aliran sungai yang ditarik jarak linear dari timur laut, batas ketinggian pegunungan Bukit Barisan, ke arah barat daya menuju laut samudera. Di bawah sungai-sungai ini memiliki arus yang deras pada kedua sisinya disebut bagian utara Air Kinal, dekat dengan Air Luas dan lebih jauh ke selatan, di tengah antara keduanya dan laut Ranau, Air Nasal.

Lembah sungai-sungai ini seringnya meluas ke hulu dan aliran tengah menuju dataran tinggi yang luas dan cocok untuk permukiman yang dibuka dengan pembakaran hutan. Wilayah pegunungan ini hingga sekarang masih ditutupi hutan hujan tropis yang lebat. Ini merupakan bagian utara tempat tinggal Orang Abung.

Tidak ada hal yang perlu diragukan bahwa wilayah ini dulunya membentang dari daerah pegunungan, timur batas ketinggian rangkaian pegunungan Bukit Barisan hingga lereng pegunungan ke dataran rendah di bagian timur. Namun, orang Melayu memasuki wilayah barat di balik pegunungan meninggalkan daerah pusatnya, wilayah yang kini dikenal dengan nama Palembang.

Begitulah wilayah-wilayah di batas ketinggian yang dibuka oleh Orang Abung jauh sebelum pergantian milenium. Di sini hanya tertinggal beberapa jejak megalit dari Orang Abung lama. Kemudian, untuk beberapa waktu kelompok Orang Abung menempati bagian barat pegunungan di tepi sungai Way Nasal dan Way Luas tertutup pegunungan bukit dari jalur orang Melayu.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR