LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 5 June
7372
Kategori Ramadan
Penulis MTVN
Editor Winarko
LAMPUNG POST | Jejak Islam di Kampung Arab Jakarta
Masjid Jami Annawier yang merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Pekojan, Jakarta Barat. (Foto: MI/Rommy Pujianto)

Jejak Islam di Kampung Arab Jakarta

JAKARTA (Lampost.co) -- Wilayah Pekojan di Tambora, Jakarta Barat, dikenal juga dengan sebutan Kampung Arab Jakarta.

 

Pada masa penjajahan Belanda, mayoritas penduduk yang tinggal di Pekojan adalah keturunan Arab, Yaman dan India. Komunitas inilah yang kemudian membawa Islam masuk ke wilayah Jakarta dan wilayah-wilayah lainnya.

Pekojan berasal dari kata khoja, sebuah istilah untuk menyebut penduduk keturunan India muslim. Pada abad ke-18 pemerintah Hindia-Belanda menetapkan Pekojan sebagai kampung arab yang kemudian menjadi permukiman khusus bagi imigran dari Yaman Selatan. 

Sejumlah bangunan yang merupakan peninggalan syiar Islam pada masa Hindia-Belanda masih tampak hingga hari ini. Sebutlah masjid Al Anshor, An Nawier, dan masjid Langgar Tinggi. Masjid-masjid ini disebut erat kaitannya dengan kedatangan bangsa arab ke Pekojan.

Sejarawan Kartum Setiawan menyebut bangunan pertama kali yang menjadi ikon dari kampung arab Pekojan adalah masjid Al Anshor. Hanya saja bangunan tersebut sudah beberapa kali mengalami renovasi.

"Boleh dikatakan masjid An Nawier ini bangunannya masih asli dan belum banyak perubahan. An Nawier termasuk masjid terbesar dan kebanyakan kegiatan utama keagamaan dilakukan di masjid An Nawier," ungkap Kartum dalam Ayo Cari Tahu, Sabtu 3 Juni 2017.

Berbeda dengan masjid Al Anshor dan An Nawier yang memang digunakan oleh para penduduk keturunan arab di Pekojan, masjid Langgar Tinggi justru digunakan oleh pendatang yang melakukan perjalanan ke Batavia untuk urusan dagang pada masa lalu.

Letaknya yang tak jauh dari Kali Angke memungkinkan pendatang untuk menyandarkan sampan ataupun perahu dan beristirahat di masjid Langgar Tinggi.

Berbeda dengan masjid lain yang mayoritas dibangun oleh masyarakat keturunan arab, masjid Langgar Tinggi justru dibangun oleh saudagar asal palembang sekitar tahun 1829 yang kemudian diperluas oleh seorang kapiten arab bernama Syeikh Said Naum. Ciri khas dari masjid Langgar Tinggi adalah bentuknya yang persegi panjang dan memiliki 2 lantai yang mirip dengan rumah panggung.

"Lantai atas untuk tempat beribadah sementara lantai bawah dipakai untuk tempat tinggal pengurus masjid dan untuk berjualan," kata Kartum.

Lambat laun penduduk Pekojan justru tak lagi didominasi oleh wajah-wajah keturunan arab, melainkan warga tionghoa dan etnis betawi itu sendiri

Sebagian dari mereka memang berpindah ke arah selatan seperti Kwitang, Condet, Jagakarsa, hingga Tanah Abang. Penduduk asli arab dan keturunannya saat ini sangat sedikit sekali yang masih tinggal di wilayah Pekojan.

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv