KOTA AGUNG (Lampost.co)--Jenazah Prayitno (76) warga Dusun Talang Ogan, Pekon Airabang, Ulu Belu, Tanggamus ditemukan tergeletak  di tengah areal perkebunan Dusun Talang Dikun, Pekon Airabang, Kamis (26/4) sekitar pukul 14.30 Wib. Korban ditemukan oleh warga sekitar yang melintas dan mencium bau menyengat.

Kapolsek Pulau Panggung AKP Budi Harto, Jumat (28/4/2018), mengatakan pihaknya mengevakuasi korban bersama dengan tim medis dan warga setempat. Berdasarkan pemeriksaan di TKP ditemukan barang bukti berupa sepasang sedal jepit, gayung alat mandi, ember plastik dan sarung basahan mandi. "Korban pertama kali ditemukan oleh Idham Khalik alias Binggul yang kebetulan melintas di lokasi TKP," ujar Kapolsek mendampingi Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma.



Diduga korban meninggal dunia ketika akan pergi ke air yang jaraknya sekitar 40 meter dari gubuk. Korban ditemukan diantara gubuk dan aliran air yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci bagi petani.
Berdasarkan keterangan dari saksi, ketika melewati areal perkebunan dirinya mencium bau tidak sedap yang menyengat. Kemudian saksi berusaha mencari sumber bau tersebut dan menemukan jasad korban. Korban ditemukan dalam posisi terlentang, becelana pendek dan tidak berpakaian.
Saksi lalu memanggil warga sekitar dan melaporkan penemuan ini ke aparat pekon guna meminta bantuan. "Bersama warga dan tim medis kami mendatangi korban. Setelah jasad korban dapat dikenali lalu tindakan selanjutnya memberitahukan hal itu kepada pihak keluarganya," kata dia.
Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Ulubelu dr. Ahmad Amirudin, diperkirakan korban sudah meninggal sejak 10 hari lalu. Sedangkan penyebab kematian korban belum dapat dipastikan.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun dari pihak keluarga korban, Prayitno meninggalkan rumah untuk berkebun pada Jumat, 13 April 2018 sekira pukul 09.00 WIB. Korban pergi dengan membawa kebutuhan pokok untuk tinggal selama berada di gubuk. Pihak keluarga tidak menaruh curiga karena korban memang biasa menginap di kebun dalam waktu yang lama. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR