BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)---Ombak berdebur dan mengempas seperti biasanya menjadi pemandangan sehari-hari bagi para nelayan yang menggantungkan hidup dari laut. Puluhan kapal bersandar di tepian.
Puluhan pria paruh baya sibuk menyiapkan berbagai perlengkapan untuk melaut di atas kapal. Ada yang mengangkut es, membersihkan badan kapal, dan ada pula yang sedang menggulung tali.
Kehidupan masyarakat di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing, Telukbetung Timur, tidak pernah sepi. Padatnya aktivitas para nelayan menggambarkan betapa banyak masyarakat yang menggantungkan hidup dari melaut.
"Persiapan yang kami lakukan sebelum berangkat adalah minyak. Kemudian membawa bekal makanan, es balok, tambang, bak wadah ikan, dan sebagainya," ujar seorang nelayan bernama Solihin.
Dia dan timnya yang berjumlah lima orang akan berangkat ke Pulau Sebesi yang terletak di bibir Gunung Anak Krakatau. Menurut Solihin, sekali berangkat melaut, dia dan rombongan meniatkan membawa hasil tangkapan ikan yang banyak untuk dijual kembali. Tidak heran, kadang satu hari bahkan hingga tiga hari mereka baru pulang membawa hasil tangkapan ikan-ikan untuk dijual.
"Kalau berangkat kadang ya sehari sudah pulang, kadang juga sampai dua, tiga hari baru pulang, bergantung ikannya. Saat ini yang lagi musim ikan layang, ikan gemuru, dan ikan tanjan," kata Solihin yang sudah 20 tahun menjadi nelayan.
Banyak pengalaman pahit yang dirasakan nelayan selama melaut. Mulai dari soal badai, kehabisan bahan bakar, hingga yang berangkat berhari-hari, tetapi tangkapan ikannya tidak sesuai yang diharapkan. Belum lagi saat tiba di TPI harga jualnya murah. Akibatnya, hasil tangkapan yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Sengsara kalau di laut. Kadang pas kehabisan bahan bakar ya pulang dulu, nebeng di kapal lain, nanti balik lagi. Kadang kehabisan makanan, esnya enggak kebayar, es habis enggak ada ikan juga sering," ujar nelayan lainnya, Subhi.
Tidak hanya itu, risiko berat lainnya yang harus ditanggung para nelayan adalah ketika minyak habis dan belum mendapat tangkapan ikan. Menurut Subhi, saat nelayan berangkat melaut, sudah menjadi risiko jika dapat tangkapan atau tidak.
Nelayan lainnya, Ariyadi mengungkapkan ketika cuaca buruk, tidak memungkinkan untuk pergi melaut. Mereka terpaksa libur untuk mencari ikan di laut. Kondisi demikian biasa dimanfaatkan oleh para nelayan untuk beristirahat dan membersihkan kapal. Ada juga yang mencuci kapal, membersihkan jaring, mengumpulkan bak-bak wadah ikan, dan sebagainya.
Terkadang hingga berminggu-minggu Ariyadi dan kawan-kawannya tidak melaut. Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, mereka terpaksa harus mengutang di warung.
"Kalau lagi enggak melaut ya nganggur, enggak dapat duit, ngutang dulu di warung. Kadang juga ke kebun kalau pas enggak melaut," ujar Ariyadi.

Cantrang
Sebelumnya, sebanyak 200 nelayan cantrang menolak kebijakan pelarangan pengoperasian alat tangkap cantrang dan payang sebagai fasilitas mencari ikan. Mereka berunjuk rasa di halaman kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Selasa (9/1).
Koordinator aksi, Kosim menjelaskan 200 nelayan Lempasing dan Telukbetung yang tergabung dalam Aliansi Nelayan Indonesia (ANI) mengikuti aksi secara nasional ini. Dalam aksi tersebut sejumlah agenda telah disiapkan, seperti apel keprihatinan, long march, dan penggalangan sejuta surat untuk Presiden, serta unjuk rasa.
"Aksi itu dimulai dengan long march dari TPI Gudang Lelang menuju Dinas Kelautan dan Perikanan. Setelah itu berunjuk rasa lagi di Pemprov," kata Kosim, Senin (8/1).
Menurut dia, dalam kegiatan itu masyarakat nelayan hanya menginginkan agar pemerintah dapat mengabulkan satu tuntutannya, yaitu melegalkan alat tanggap cantrang dan payang.
"Kami ingin menyampaikan agar Presiden dapat melegalkan kembali alat tangkap itu karena kebijakan itu sangat merugikan kami sebagai nelayan," ujarnya.



 

loading...

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR