PERKEMBANGAN teknologi yang begitu pesat membuat semakin majunya interaksi manusia melalui jaringan internet. Ya, zaman saat ini siapa yang tak kenal dengan media sosial. Sebut saja Facebook, Instagram, dan Twitter.

Namun, di tengah kemajuan, banyak dari berbagai kalangan tidak menggunakan media sosial dengan bijak. Banyak kasus pelanggaran undang-undang transaksi elektronik atau yang biasa disebut UU ITE menjerat banyak orang akibat menggunakan media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebencian, fitnah, berita bohong, serta isu suku, ras, dan antargolongan (SARA).



Masih banyak masyarakat yang belum paham bagaimana menggunakan media sosial secara bijaksana agar tak melanggar aturan yang berakibat sanksi pidana penjara. Bahkan, dalam interaksi media sosial sering menimbulkan konflik. Karena itu, ada hal yang perlu kita perhatikan dalam segala aktivitas daring yang dilakukan di internet.

Di Lampung, kasus terbaru, UU ITE menjerat seorang ibu rumah tangga, warga Gedongair, Bandar Lampung, yang menyebarkan isu bohong soal server Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ibu tersebut dibekuk Tim Penyidik Unit IV Subdit 1 Dittipidsiber Bareskrim Polri dengan pelapor Setya Indra Arifin selaku kuasa hukum KPU RI.

Sebelumnya, UU ITE juga menjerat warga Bumi I, Kampungbaru, Bandar Lampung, karena terbukti telah menyebarkan berita hoaks dan memprovokasi khalayak ramai tentang ujaran kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat antarklub sepak bola.

Perbuatan terdakwa melalui media sosial itu pun kini sudah masuk ke proses persidangan. Jaksa pun sudah mendakwa terdakwa dengan Pasal 45 A Ayat (2) jo Pasal 28 Ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Infomasi dan Transaksi Elektronika. Kini kasus tersebut tinggal menunggu proses persidangan selanjutnya dan menunggu sidang vonis oleh Majelis Hakim.

Dari dua kasus tersebut, kita sebagai manusia yang punya pikiran jernih tak usahlah menuruti hawa nafsu dengan meluapkan apa yang ada di benak kita melalui jari-jari kita untuk menulisnya di media sosial.

Sebab, apa yang diketik jari-jari kita bisa jadi akan membawa kita berurusan dengan hukum. Undang-undang sudah jelas mengaturnya dan sudah jelas pula sanksi pidana atau denda mengancam bagi siapa saja yang melanggarnya dengan ancaman maksimal hukuman penjara 6 tahun atau denda Rp1 miliar.

Jangan sampai apa yang dilakukan dalam komunikasi media sosial kita menjadi hal yang berbenturan dengan hukum sehubungan dengan adanya UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Jaga jari-jarimu dari tulisan-tulisan yang membuat orang lain merasa dihina atau dilecehkan. Setop menyebarkan hoaks dan tulisan-tulisan provokasi yang tidak bermanfaat. Semoga kita selalu diberikan pikiran jernih untuk setiap meluapkan pikiran melalui tulisan. 

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR