BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Jaksa Penuntut Umum Pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung mengahdirkan terdakwa Dudung (34) warga Jl M. Yunus, Pematang Wangi, Kecamatan Tanjung Senang, Bandar Lampung. Terdakwa didakwa melakukan penipuan dapat memasukkan seseorang menjadi perwira TNI AD di Akademi Militer.

Jaksa Arie Apriyansyah dipersidangan menjelaskan, kasus itu berawal pada Agustus 2017 lalu, saat itu korban Erwin Malik Manurung bertemu dikediamannya. Ketika itu saksi korban meminta bantuan kepada terdakwa untuk mengurus anaknya agar dapat lulus dalam tes penerimaan AKMIL TNI Angkatan Darat untuk tahun 2018.



Selanjutnya terdakwa menyanggupi permintaan saksi korban tersebut dan mengatakan bahwa terkait masalah dana yang dibutuhkan akan dibicarakan. Pada pertemuan selanjutnya di rumah orang tua istri terdakwa di daerah Wiyono Kabupaten Pesawaran terjadi kesepakatan antara korban dan terdakwa. Terdakwa menyatakan bisa membantu anak korban lulus dan akan mengawalnya pada saat tes AKMIL tahun 2018.
 
Lalu disepakatilah terdakwa meminta biaya pendaftaran masuk AKMIL sebesar Rp250 juta dan korban pun menyanggupinya. Dengan janji apabila gagal terdakwa akan mengembalikan uang keseluruhan yang telah diserahkan.

Pada 5 Oktober 2018, sekira pukul 20.00 WIB, terdakwa bersama istrinya bertemu dengan korban di tempat usaha poto kopi milik korban. Terdakwa yang saat itu datang bersama istrinya yaitu Trinanda Mega Kusuma meminta uang sebesar Rp250 juta yang sudah disepakati dengan alasan terdakwa akan pergi ke Palembang untuk bertemu dengan oknum yang akan mengurus anak korban pada saat tes AKMIL nanti.

"Waktu itu uang belum siap. Korban hanya menyerahkan tanda jadi atau DP sebesar Rp60 juta dan pada tanggal 13 Oktober 2018 korban menyerahkan uang sisanya kepada terdakwa sebesar Rp190 juta yang ditransferbdan atas penyerahan keseluruhan dana tersebut dibuatkan Surat Pernyataan. Isinya menyatakan bahwa benar terdakwa telah menerima uang dari saksi korban," kata JPU Ari.

Bulan April 2018 anak korban mendaftar tes AKMIL-AD tahun 2018 dan mengikuti rangkaian tes dan dinyatakan tidak lulus sehingga korban meminta keseluruhan uang yang terdakwa terima tersebut untuk dikembalikan sesuai kesepakatan, namun terdakwa sampai dengan sekarang tidak kunjung mengembalikan uang milik korban.
 
"Akibat perbuatan terdakwa, korban menderita kerugian sebesar Rp250 juta, atas perbuatan itu, terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 372 KUHPidana dengan ancaman tujuh tahun penjara," kata Jaksa.

 

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR