SEPEKAN menjelang Ramadan, bangsa Indonesia dikejutkan dengan tindakan terorisme di Mako Brimob, dilanjutkan berturut-turut di tiga gereja Surabaya, Rusunawa di Sidoarjo, dan di Polrestabes Surabaya. Tindakan tersebut tentu mengiris luka yang teramat dalam. Bukan hanya bagi keluarga mereka yang menjadi korban, melainkan juga mengiris hubungan antaranak bangsa yang sudah teramat erat dibangun atas dasar kebinekaan.

Ada banyak pertanyaan yang muncul dari kejadian tindakan terorisme tersebut, terutama kejadian di tiga gereja yang dilakukan satu keluarga yang dianggap masyarakat setempat (pelakunya) taat dalam beribadah dan bergaul layaknya masyarakat pada umumnya. Kejadian tersebut mengonversi pola gerak sebelumnya yang sifatnya eksklusif dan berpindah tempat, berubah menjadi terbuka dan menetap.



NKRI: Darussalam

Pertanyaan pertama yang muncul adalah adakah yang salah dari bangsa ini, sehingga dengan mudahnya mengorbankan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang berada dalam satu ikatan ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sesama anak bangsa)? Padahal, bangsa ini sejak awal sebelum Indonesia merdeka telah merumuskan bahwa Indonesia adalah darussalam (negara damai) bukan darulharbi (negara perang) apalagi darulkuffar (negara kafir). Hal ini sebagaimana dalam Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan, walaupun pada saat itu faktanya Belanda menguasai Indonesia.

Alasan ulama merumuskan Indonesia sebagai darussalam, sebelumnya Belanda datang, Indonesia merupakan wilayah Islam. Selain itu, Belanda (walaupun faktanya mereka nonmuslim) juga membiarkan umat Islam menjalankan ajaran agamanya bahkan memfasilitasi umat Islam untuk berangkat haji.

Jika bercermin formulasi ulama ketika itu, tentu saat ini tidak ada alasan lagi untuk tidak menerima pemikiran tersebut. Saat ini presiden Indonesia seorang muslim, jajaran-jajarannya juga banyak yang muslim. Menjalankan ibadah bagi umat Islam dilindungi negara. Undang-undang berbasis syariah juga banyak bermunculan. Lembaga-lembaga berbasis syariah juga menjamur. Perda-perda bernuansa syariah juga diakomodasi negara.

Dalam hal konsumsi makanan dan obat-obatan, umat muslim juga dilindungi melalui Undang-Undang Perlindungan Konsumen, bahwa bagi produsen harus memastikan label halal untuk konsumennya. Imbasnya, semua produk harus berlabel halal yang sebelumnya diaudit terlebih dahulu Lembaga Penelitian dan Pengkajian Obat-obatan dan Makanan (LPPOM) MUI. Walaupun faktanya, sebagaimana penulis lakukan sebagai auditor LPPOM, pelaku usahanya terkadang nonmuslim.

Menyakiti Nabi

Tentu, sebagai darussalam, dilarang untuk saling melukai terlebih kepada agama yang berbeda. Bukankah Rasulullah pernah menyatakan dalam Piagam Madinah (622 M) pada pasal 16 bahwa kaum Yahudi yang mengikuti kita berhak mendapat perlindungan dan hak persamaan tanpa ada penganiayaan atas mereka dan tidak ditolong orang-orang yang menjadi musuh mereka?

Bukankah dalam Pasal 25 juga dinyatakan bagi orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka pula? Dan, dalam Pasal 46 dinyatakan kaum Yahudi Al Aws, sekutu dan diri mereka, memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini?

Dalam Piagam Madinah tersebut, tentu dapat dipahami haram hukumnya melukai seorang nonmuslim di negara yang damai. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Thabrani, Rasulullah menyatakan barang siapa yang menyakiti orang dzimmi (nonmuslim yang berinteraksi secara baik), berarti dia telah menyakiti diriku. Dan, barang siapa menyakiti diriku, berarti dia menyakiti Allah. Man Adza Dzimmiyyan faqod adzani. Man adzani faqod azdallah.

Dalam hadis lain juga sebagaimana diriwayatkan al-Bukhâri No. 2995, Rasulullah menyatakan barang siapa membunuh orang kafir mu’ahad, (maka) ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya didapati dari jarak perjalanan empat puluh tahun.

Hadis tersebut menyiratkan betapa Rasulullah berhati mulia, siapa pun yang menyakiti nonmuslim, sama dengan menyakitinya, menyakitinya berarti sama dengan menyakiti Allah. Jadi, mereka yang melakukan tindakan terorisme tanpa sebab kepada nonmuslim terlebih muslim sama saja menyakiti ajaran nabi dan ajaran Allah Swt.

Haram Hancurkan Rumah Ibadah

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa tindakan terorisme dialamatkan kepada rumah ibadah? Bukankah Allah telah berfirman dalam Surah Al-Hajj Ayat 40 yang menyatakan dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid? Bahkan, Lembaga Fatwa Dar Al-Ifta, Mesir, pada 3 Maret 2011, mengeluarkan fatwa haram merusak atau bahkan menghancurkan gereja. Terlebih, bila di tempat ibadah itu terdapat jiwa yang tak bersalah.

Bukankah pula Abu Bakar Ash-Shiddiq pada saat mengutus Yazid bin Abu Sufyan ke Syam sebagai panglima perang berpesan pada Yazid sesuai pesan yang diberikan Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Baihaqi dalam kitab Sunan Al-Kubro No. 17591 yang menyatakan jangan membunuh anak kecil, wanita, orang tua, orang sakit, pendeta, jangan menebang pohon berbuah, jangan merusak bangunan, jangan menyembelih unta atau sapi kecuali untuk dimakan, jangan menenggelamkan sarang tawon dan membakarnya, termasuk juga dilarang merobohkan atau merusak tempat ibadah seperti gereja, kuil, wihara, kelenteng, dan sebagainya?

Anak Dikorbankan

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah kenapa anak kecil yang tidak berdosa (belum akil balig) dan tidak mengetahui apa-apa harus ikut dalam tindakan terorisme? Bukankah Allah telah berfirman sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui?

Apakah alasannya? Karena, jika diikutsertakan dalam tindakan terorisme, akan kasihan, kelak siapa yang akan membesarkan anak-anaknya? Bukankah ketakutan untuk tidak bisa hidup layak bagi anak-anaknya kemudian membunuhnya dalam tindakan terorisme dibenarkan dalam agama? Bukankah Allah telah berfirman dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan? Firman Allah, “Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya, membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Apa pun tindakan terorisme yang dilakukan, dengan berbagai alasan apa pun tetap tidak dibenarkan, baik dalam agama maupun dalam negara. Semoga selalu damai Indonesiaku.

Artikel di atas juga dapat dibaca di www.lampungpost.co.id

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR