BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Penerimaan peserta didik baru (PPPDB) SMA jalur mandiri di Bandar Lampung dinilai memberatkan. Tingginya nominal yang harus dibayarkan untuk diterima di jalur mandiri, perlu dikaji ulang.

"Sekolah minta SPI senilai Rp8 juta. Dan itu harus langsung dibayarkan secara tunai. Ini jelas sangat memberatkan," kata seorang ibu calon siswa di salah satu SMA negeri di Sukarame, Bandar Lampung, Senin (11/6/2018).



Ia mengaku kesulitan mengumpulkan uang sebayak itu karena harus menyisihkan dana untuk keperluan pendidikan 2 anaknya yang lain.

Pengamat pendidikan Andi Surya mengatakan fungsi pengawasan SPI harus optimal baik oleh pihak eksternal maupun internal. Mahalnya tarif PPDB jalur mandiri SMA negeri di Bandar Lampung sebaiknya dievaluasi.

"Komite jangan hanya mengawasi tetapi juga harus mengevaluasi kebijakan yang dinilai memberatkan masyarakat," kata Andi.

Selain itu, sekolah juga sebaiknya menunjukkan sisi sosial dengan mengakomodasi kemampuan orang tua calon siswa. Misalnya dengan memberikan kemudahan pembayaran melalui angsuran.

"Sekolah harus memahami kondisi masyarakat. Jangan terlalu berorientasi pada profit. Bahkan lembaga swasta saja tidak melulu hanya mengejar profit, kami masih mengedepankan sisi sosial," ujar Ketua Perguruan Tinggi Mitra Lampung itu.

Banyaknya keluhan masyarakat terhadap tingginya SPI jalur mandiri sebaiknya disikapi sekolah dan pihak terkait untuk mengevaluasi kebijakan tersebut.

"Meskipun jalur mandiri, sekolah harus menunjukkan empati pada masyarakat. Disdik sebaiknya memperhatikan keluhan masyarakat ini," kata Andi.

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR