LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 17 July
5993

Tags

RESPONSIVE ADS
LAMPUNG POST | Jalan Lain Pemberantasan Narkoba
Ilustrasi. (Foto : MTVN)

Jalan Lain Pemberantasan Narkoba

(Lampost.co)--Indonesia darurat narkoba, demikian yang disampaikan Presiden Jokowi sejak lama. Lampung pun darurat narkoba, demikian yang disampaikan Gubernur Lampung Ridho Ficardo pada puncak Hari Antinarkoba. Gubernur bahkan melontarkan pernyataan untuk menembak langsung bandar-bandar narkoba pada acara tersebut. Narkoba memang sudah menjadi momok yang sangat menakutkan, tidak hanya bagi dunia internasional, tetapi juga bagi bangsa kita.

Hasil penelitian BNN juga menguatkan bahwa saat ini Indonesia berstatus darurat narkoba. Pengguna narkoba di Indonesia tercatat kurang lebih dari 6 juta jiwa. Jumlah tersebut terus meningkat jika dibandingkan jumlah pengguna pada Juni 2015 sebesar 4,2 juta orang dan meningkat pada November 2015 menjadi 5,9 juta. Dari segi korban jiwa, setiap tahun sekitar 15 ribu jiwa melayang karena menggunakan narkoba, sekitar 50 orang setiap harinya.

Tidak hanya dari jumlah pengguna dan korban, ironi dari wabah bernama narkoba adalah pengguna narkoba paling banyak itu berada di usia produktif 24—30 tahun. Tentunya ini menjadi sesuatu hal yang memprihatinkan karena usia produktif tersebut akan menjadi pemimpin dan penggerak negara bangsa kita pada masa yang akan datang.

Dari segi tingkat pendidikan dan pekerjaan, narkoba tidak pandang bulu. Mulai dari tingkat pendidikan rendah sampai tinggi, mulai dari pekerja kasar sampai pejabat daerah, tidak lepas dari cengkeraman narkoba.

Dari segi jangkauan peredaran, narkoba ternyata tidak hanya beredar di wilayah perkotaan, tetapi juga banyak di wilayah perdesaan. Dari segi bentuk olahan narkoba, kita tentu ingat bagaimana narkoba dijadikan olahan permen yang kemudian dikonsumsi oleh siswa SD.

Dari segi evolusi efek narkoba, kami tentu ingat bahwa narkoba sudah metamorfosis ke tingkat yang lebih tinggi. Kami tentu ingat bagaimana narkoba jenis Gorilla menyebabkan satu mobil melesat seperti peluru di persimpangan pramuka. Baru-baru ini dunia juga digemparkan dengan narkoba jenis baru bernama Flakka yang bisa membuat pemakainya menjadi berlaku seperti zombi.

Dengan kondisi ke depan yang kompleks dan berwarna tersebut, apakah pendekatan yang dilakukan untuk memberantasnya adalah dengan menembak mati bandar dan pengedar narkoba? Tidak adakah another path atau jalan lain pemberantasan narkoba? Kita tentu sepakat bahwa perang masif perlu dilakukan karena peredaran narkoba telah menjadi extraordinary.

 

Perang terhadap Narkoba

Dalam tataran nasional, perang besar-besaran terhadap narkoba sudah dimulai sejak 2009 dengan di undangannya UU Narkotika. Sejak saat itu pemerintah konsisten menerapkan hukuman mati bagi pengedar-pengedar narkoba kelas hiu, baik pengedar kaliber nasional maupun kaliber internasional.

Tercatat selama 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah terjadi 21 eksekusi mati. Sementara pada masa pemerintahannya, Presiden Joko Widodo telah melaksanakan 18 eksekusi mati dari 25 terpidana mati.

Dalam laporan kinerja 2016, dinyatakan Mahkamah Agung menerima 1.111 perkara narkotika di tingkat kasasi. Sebanyak 787 di antaranya telah diputus oleh majelis hakim. Dari jumlah tersebut, MA menjatuhkan hukuman mati terhadap 25 terpidana dan hukuman seumur hidup terhadap 45 terpidana.

Namun, ternyata pemindanaan terhadap pengguna dan pecandu narkotika tidak menghasilkan efek jera. Itu tampak dari peningkatan jumlah penyalahgunaan narkotika di Indonesia dari tahun ke tahun sampai sekarang.

Bagaimana dengan penerapan hukum brutal terhadap bandar dan pengedar narkoba, misalnya yang dilakukan Davao Death Squad yang dibentuk Presiden Duterte dan telah menewaskan 5.000 orang? Data menunjukkan perang narkoba penuh kekerasan di Asia Tenggara tidak menunjukkan hasil positif. Thailand lebih dulu mengambil langkah ekstrem memberantas pengedar narkoba pada 2003.

Pada masa pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, lebih dari 2.200 orang tewas, tapi sampai sekarang narkoba masih membanjiri Negeri Gajah Putih. Separuh korban tewas perang narkoba di Thailand bahkan terbukti salah sasaran.

Oleh karena pendekatan tembak mati dan eksekusi mati tidak harus menjadi yang utama dalam pemberantasan narkoba. Harus dipikirkan another path atau jalan lain bagi pencegahan dan pemberantasan narkoba agar efektif dan efisien.

 

Jalan Lain

Terdapat beberapa rekomendasi untuk pencegahan dan pemberantasan narkoba ke depan yang bisa disampaikan dalam tulisan ini. Tujuan dari jalan lain yang direkomendasikan ini adalah memutus rantai distribusi dan permintaan antara konsumen dan produsen.

Pertama, menguatkan rezim hukum pencegahan dan pemberantasan narkoba dari tingkat pusat sampai tingkat desa. Hal ini penting karena penyalahgunaan narkoba telah sampai ke pelosok desa dan banyak celah hukum yang bisa digunakan untuk menghindar dari jeratan hukum.

Perbaikan hukum baik secara substansi maupun penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten. Penegakan hukum terutama kepada pejabat pemerintah yang terbukti harus dilakukan tanpa pandang bulu. Kedua, menguatkan kampanye pencegahan narkoba sampai tingkat desa. Desa yang sekarang mendapat kucuran dana desa yang luar biasa telah membuka gerbang target pengedaran narkoba.

Ketiga, menguatkan kerja sama kelembagaan secara komprehensif. Hal ini penting karena narkoba menyebar melalui jaringan internasional dan nasional sehingga setiap lembaga negara di tiap lini perlu melakukan kerja sama dalam menangkal penyebaran dan penyelundupan narkoba. Pekerjaan pencegahan narkoba tidak bisa dipikulkan kepada BNN saja, tetapi memerlukan kerja sama semua pihak baik pemda, kementerian, maupun institusi pendidikan dan perguruan tinggi.

Keempat, inisiasi dan penguatan program-program pemuda yang produktif dan kreatif. Kita harus menciptakan lingkungan dengan pemuda-pemuda Indonesia merasa sehat dan memiliki pilihan untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan positif sehingga mengurangi kemungkinan mereka mengonsumsi narkoba. Komunitas-komunitas produktif dan kreatif perlu diinisiasi dan dikuatkan. Di sinilah peran pemerintah bisa dikuatkan dengan menyediakan fasilitas dan sarana kepemudaan yang baik. Beberapa inisasi ini sudah dilakukan, misalnya di Lampung Timur dengan Gerakan Pemuda Malu Menganggur.

Kelima, adalah melembagakan kurikulum pencegahan di semua tingkat pendidikan sehingga generasi muda dapat mengetahui efek negatif dari narkoba. Beberapa kasus narkoba adalah keinginan kuat untuk mencoba dan merasa kuat atas efek narkoba. Dengan pengetahuan lebih dalam mengenai narkoba, generasi muda bisa lebih antisipatif terhadap bahaya narkoba.

Demikianlah jalan kekerasan bukanlah jalan utama dalam memberantas narkoba. Selain pemikiran yang penulis tuangkan, jalan lain perlu kita pikirkan dan kembangkan bersama agar narkoba lambat laun menghilang dari bumi Indonesia.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv