KERUSAKAN Jalan Ryacudu, jalur dua Perumahan Korpri, Bandar Lampung, sudah berlangsung sejak setahun terakhir. Kondisi itu makin parah setelah pengoperasian Jalan Tol Trans-Sumatera.

Intensitas kendaraan yang melintas di jalur sepanjang 3,3 kilometer itu makin tinggi. Sebab, hanya jalur itulah yang menjadi akses paling mudah menuju gerbang tol Kota Baru. Masyarakat yang berangkat dari dalam kota menggunakan jalan tersebut jika hendak ke Kalianda dan Bakauheni maupun ke Metro dan Terbangggibesar.



Bukan saja intensitas kendaraan yang makin tinggi, kapasitas kendaraan pun makin besar. Banyak truk dari dan ke luar kota melintasi jalur tersebut. Kerusakan makin menjadi-jadi di saat musim hujan seperti saat ini. Lubang-lubang jalan yang semula berukuran kecil kian melebar karena tergerus air.

Di banyak titik kerusakan, lubang jalan sudah mirip kolam ikan dan kedalamannya ada yang mencapai 30 cm. Tidak berlebihan jika dikatakan ruas jalan tersebut saat ini sudah benar-benar hancur.

Beberapa kendaraan memilih berpindah ruas untuk menghindari kerusakan jalan sehingga kerap terjadi kemacetan saat jam padat. Keadaan ini jelas sangat menjengkelkan pengguna jalan. Bukan cuma menjengkelkan bahkan kondisi kerusakan jalan tersebut telah merenggut dua korban jiwa, pada September 2018.

Kedua korban itu, Yoyon Junaidi (45) dan Ardi Irawan (20), keduanya warga Sukarame. Sepeda motor yang mereka tumpangi jatuh di depan minimarket Kelurahan Korpri, Sukarame, Jumat (21/9), pukul 03.15, saat berusaha menghindari lubang.

Selain kerusakan jalan, di lokasi kecelakaan itu minim penerangan dan licin setelah diguyur hujan. Ardi tewas di lokasi kejadian, sedangkan Yoyon yang mengemudikan sepeda motor tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Pemerintah Provinsi Lampung sudah mengalokasikan Rp11,4 miliar untuk perbaikan jalur tersebut. Dana yang bersumber dari APBD itu akan digunakan untuk perbaikan menyeluruh, baik jalan maupun drainase. Namun, saat ini proyek tersebut masih dalam proses lelang tender. Solusi sementara dilakukan perawatan berupa perbaikan ringan dengan menggunakan dana pemeliharaan. Namun, rencana tersebut terkendala alat berat yang mengalami kerusakan.

Memang, awalnya Jalan Ryacudu tidak sepadat sekarang. Namun, jalur tersebut kini menjadi jalur utama. Selain akses ke gerbang tol Kota Baru, juga menjadi akses utama menuju kampus Institut Teknologi Sumatera. Juga menjadi perlintasan masyarakat yang tinggal di perumahan sekitar serta masyarakat Lampung Selatan yang bekerja di Bandar Lampung.

Antisipasi kerusakan jalan seharusnya sudah dilakukan sejak awal pembangunan gerbang tol Kota Baru dan pembangunan kampus Itera. Semisal dengan melakukan perbaikan total hingga ujung flyover Way Halim. Namun, antisipasi itulah yang terlambat padahal ada ribuan warga yang setiap hari melintas di jalur tersebut.

Jadi, perbaikan Jalan Ryacudu harus disegerakan dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Sudah cukuplah dua korban jiwa itu. Sudah cukup pula rasa kesal ribuan warga saat melintas di jalan tersebut.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR