SEJAK dua bulan lalu kemarau mulai menyengat Lampung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan puncak kemarau akan berlangsung pada Agustus—September dan berakhir pada November 2018.

Pada puncak kemarau, curah hujan diperkirakan antara 20—0 milimeter per bulan atau sama sekali tidak ada hujan. Dampak kemarau mulai dirasakan para petani di sejumlah daerah.



Di Lampung Selatan, areal sawah tadah hujan di Desa Bumidaya, Kecamatan Palas, mulai kesulitan pasokan air. Lahan sawah yang lembab berair kini terlihat retak-retak bak kehausan menunggu guyuran hujan. Sebagian tanaman padi yang berumur satu bulan mulai mengering. Untuk menyelamatkan tanaman padi, para petani mengaliri lahan mereka dengan memompa air dari sumur bor.

Di Kecamatan Sekampung, Lampung Timur, kekeringan lahan dibarengi dengan serangan hama tikus. Binatang pengerat itu menyerang puluhan hektare tanaman padi berumur dua bulan. Bulir-bulir padi yang mulai bernas ludes digasak tikus hanya dalam beberapa hari. Tidak hanya merusak bulir padi, tikus juga memangsa habis padi di persemaian.

Selain padi, tikus juga menyerbu tanaman jagung. Biasanya, rombongan tikus menyatroni pada malam hari. Ratusan tikus itu menggasak jagung dan dalam waktu singkat menyisakan tongkolnya saja di pohon. Para petani terpaksa panen dini sisa tanaman jagung di lahan lain yang belum sempat diserang tikus.

Dilihat dari dampaknya, kekeringan di Lamsel serta serbuan hama tikus di Lamtim, baru melanda puluhan hektare lahan dibandingkan total luas lahan padi di Lampung sekitar 400 ribu hektare. Dalam hitung-hitungan panen, pengaruhnya belum terlalu besar terhadap target produksi padi Lampung ini sebesar 4,45 juta ton.

Namun, bagaimanapun munculnya gangguan produksi di tingkat petani harus diantisipasi dengan baik. Pemerintah daerah hendaknya tidak menyepelekan sekecil apa pun gangguan di level budi daya. Jika dibiarkan, bukan mustahil akan menjadi bom waktu yang merusak stabilitas produksi pangan.

Semisal serangan tikus di Lamtim, andai tidak segera dilakukan pemberantasan secara sistematis dapat menyebar ke daerah lain. Setidaknya Dinas Pertanian segera mengirimkan petugas, perlengkapan, dan obat yang diperlukan dalam pemberantasan tikus. Pendataan luas lahan terdampak hama penting dilakukan, tetapi hal paling mendesak saat ini adalah tindakan pemberantasan.

Demikian pula untuk mengatasi kekeringan lahan di Lamsel, pemda perlu segera mengirim bantuan teknis sumur bor dan biaya agar padi yang telanjur ditanam tidak mengalami puso. Penyuluh pertanian juga harus menyosialisasikan pola tanam dan jenis tanaman selama kemarau.

Palawija dan tanaman semusim yang tidak terlalu memerlukan banyak air dapat dijadikan sebagai pilihan komoditas. Segenap komponen masyarakat, terutama pemda, tenaga penyuluh, dan para petani berkepentingan untuk menjaga Lampung sebagai lumbung pangan nasional.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR