PERTANDA seperti 2007 yang mengisyaratkan bakal ada resesi global 2008, pekan lalu muncul di AS. Yaitu, terjadi kurva terbalik imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS (US Treasury), untuk tenor 10 tahun imbal hasilnya lebih rendah dari tenor 2 tahun.


Rabu (14/8), imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun lebih rendah 2,1 basis poin dari tenor 2 tahun. Menurut data Refinitiv yang dikutip Kontan.co.id dari Reuters, pembalikan ini pertama kali sejak 2007. Juga dilaporkan CNBC, pukul 07.25 WIB, yield obligasi AS tenor 2 tahun 1,9781%, tenor 10 tahun 1,5826%.




"Pasar keuangan jarang berbohong dan secara global sepertinya mengharapkan satu hari perhitungan," kata Tom Galoma, direktur pelaksana Seaport Global Holding di New York.
Pembalikan kurva imbal hasil atau inversi ini mengguncang para investor yang sudah khawatir dengan perang dagang AS-Tiongkok memicu resesi global.


Awal tahun ini, bank sentral AS yang optimistis setelah menaikkan suku bunga acuan sampai empat kali pada 2018, pada Maret 2019 tiba-tiba berbalik. The Fed mengakhiri siklus kenaikan suku bunga. Bahkan, pada Juli 2019 The Fed justru memangkas suku bunga. Pembalikan arah The Fed ini yang memicu reposisi luas hingga terbaliknya kurva US Treasury.
Seiring itu bank sentral Eropa (ECB) mengevaluasi pemotongan suku bunga ke arah negatif, di bawah nol. Demikian pula Jepang, Selandia Baru, dan bank sentral lainnya. Semua itu demi terciptanya kebijakan moneter yang lebih longgar agar ekonomi bergerak mendorong pertumbuhan global yang melemah dan menjurus resesi.


"Kebijakan moneter dalam beberapa tahun terakhir telah membuatnya hampir tidak efektif, atau bahkan berbahaya dalam beberapa kasus, karena bank sentral berusaha mengatasi masalah di luar kendali mereka, dengan alat kebijakan yang terbatas dan sering eksperimental," tulis ahli strategi Bank of America Merrill Lynch, FX Athanasios Vamvakidis.


Menarik pengalaman dari dampak resesi global yang menjerat Indonesia dalam skandal Bank Century yang hingga kini kasusnya belum  tuntas sepenuhnya, kesiapan menghadapi ekses resesi ke ekonomi domestik harus dipersiapkan. Resesi bisa mengganggu proses pembangunan karena aliran segala bentuk modal asing tak selancar saat normal, akibat banyak dana menghindari risiko resesi hingga diamankan dalam aneka safe haven.


Kecuali Indonesia bisa membuat rupiah menjadi safe haven yang diburu investor seperti yen yang menggeser poundsterling sejak ada Brexit. *

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR