MULAI 1 Agustus 2018 pemerintah mengawali pemberian vaksin measles dan rubella (MR) tahap kedua hingga September 2018 di 28 provinsi di Indonesia. Lampung juga menjadi satu daerah sasaran imunisasi untuk mencegah penyakit campak dan rubella.

Sai Bumi Ruwa Jurai menjadi daerah ketiga terbesar nasional setelah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan program tersebut. Tahun ini Sumatera jadi kunci imunisasi MR dengan jumlah anak yang mencapai 50% dari akumulasi nasional. Jumlah anak yang menjadi target di Lampung mencapai 2.237.041 orang.



Program vaksinisasi MR bertujuan mengeliminasi penyakit campak pada 2020. Untuk mencapai itu, seluruh negara diharapkan mampu memperluas pemberian imunisasi sampai mencapai cakupan lebih dari 95% target sasaran imunisasinya. Vaksin MR diyakini menjadi upaya terbaik untuk mencegah penyakit campak yang merupakan satu dari 10 penyebab kematian pada anak di dunia.

Rubella juga merupakan penyakit akut yang bisa menginfeksi dewasa. Bahkan, jika menyerang wanita hamil, berisiko keguguran atau melahirkan bayi dengan kelainan jantung, mata, pendengaran, dan sistem saraf pusat. Karena itu, para orang tua harus mendukung program pemerintah untuk memberikan imunisasi MR pada anak usia sembilan bulan hingga kurang dari 15 tahun.

Hal itu demi menghindari penyakit kelainan bawaan. Vaksin MR juga wajib diberikan kepada anak yang sudah pernah diimunisasi campak atau terkena campak sebelumnya. Hal itu dilakukan agar kebal terhadap rubella. Mengingat kedua penyakit tersebut tidak bisa diobati dan hanya bisa dicegah dengan imunisasi.

Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang imunisasi. Fatwa MUI No 4 menyatakan demi kepentingan umat imunisasi diperbolehkan sebagai ikhtiar mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya penyakit tertentu.

MUI juga memberi pernyataan dalam surat rekomendasi yang dikeluarkannya pada 31 Juli 2017 yang menyatakan dukungan terhadap program Kemenkes RI tentang kampanye dan pengenalan imunisasi MR tahun 2017 dan 2018.

Orang tua harus mampu menangkal isu negatif mengenai imunisasi vaksin MR. Jangan sampai wabah polio di beberapa provinsi era 2005—2006 terulang akibat penyebaran isu larangan imunisasi. Akibatnya 352 anak Indonesia lumpuh, cacat, menjadi beban keluarga seumur hidup.

Begitu juga dengan penyebaran isu yang salah sehingga banyak anak tidak diimunisasi DPT sehingga terjadi wabah difteria pada 2007—2013. Akibatnya, 2.869 anak dirawat di RS dan 131 anak meninggal dunia.

Pada 2010—2014, terjadi 1.008 kali wabah campak dan menyerang 83.391 bayi dan anak Indonesia. Hal itu akibat penyebaran isu tersebut banyak anak tidak mau imunisasi campak sehingga makin banyak anak yang sakit berat atau meninggal akibat campak.

Kita tentu tidak ingin bayi dan anak di Lampung terserang campak lantaran menjadi korban isu sesat menyesatkan. Kini, kesadaran dan dukungan masyarakat mengizinkan anaknya diimunisasi vaksin MR sangat dibutuhkan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR