Paris (Lampost.co) -- Israel secara resmi menginformasikan Agensi Kebudayaan dan Pendidikan PBB (UNESCO) mengenai penarikan dirinya dari keanggotaan. Penarikan diri dilakukan dua bulan usai Israel mengumumkan akan mengikuti langkah serupa yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah pernyataan, Kepala UNESCO Audrey Azoulay mengaku sudah mendapatkan informasi resmi bahwa Israel akan keluar pada 31 Desember 2018.

"Saya menyesalkan keputusan ini," kata Azoulay, seperti dikutip AFP, Jumat 29 Desember 2018.

Pada 12 Oktober, AS mengumumkan akan mundur dari UNESCO. AS menuduh UNESCO memiliki siap "bias anti-Israel" -- sebuah sentimen yang diperkuat pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa organisasi tersebut telah menjadi "teater absurd."

Keputusan mundur AS dan Israel terjadi usai munculnya sejumlah resolusi yang diadopsi UNESCO tahun ini. Resolusi-resolusi itu berisi kritik dan kecaman terhadap Israel.

Salah satu isi dari resolusi menyebutkan bahwa Israel adalah sebuah "kekuatan yang menduduki" kota Yerusalem. Poin lainnya mendeklarasikan Kota Tua Hebron di Tepi Barat sebagai Situs Warisan Budaya Palestina. 

Ketegangan meningkat sejak UNESCO memasukkan Palestina sebagai negara anggota pada 2011 -- sebuah langkah yang ditentang AS serta Israel. Kedua negara itu menyebut segala bentuk pengakuan atas status kenegaraan Palestina harus menanti hasil negosiasi perjanjian damai.

UNESCO adalah agensi yang dikenal lewat pembuatan daftar Situs Warisan Budaya Dunia. Israel, yang telah menjadi anggota sejak 1949, memiliki sembilan Situs Warisan Dunia dalam daftar UNESCO. 

Organisasi tersebut juga bergerak di bidang sains, pendidikan dan kebudayaan, termasuk program untuk mengedukasi masyarakat mengenai Holocaust dan dialog lintas budaya.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR