LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 15 June
3793

Tags

LAMPUNG POST | ISIS Membangun Peradapan Teroris
ISIS Membangun Peradapan Teroris. (Ilustrasi/Google)

ISIS Membangun Peradapan Teroris

PELEDAKAN bom di Kampung Melayu belum lama ini dengan sasaran tempat publik dan pos Polisi sebagai bentuk kampanye para pengikut ISIS di Indonesia menunjukkan jati dirinya untuk melakukan perlawanan politiknya dengan cara-cara menyebarkan teror dan mempertontonkan pelaku bom diri telah melakukan tindakan jihad sebagai realiasasi puncak mencapai doktrin ideologi radikal. Sementara, agama Islam sangat dengan tegas mengharamkan cara-cara tindakan jihad dan membunuh orang lain yang dilakukan para pengikut ISIS tersebut. Bagi mereka cukup mengambil label agama dan tindakan yang sangat jauh dari akal manusia dalam menemukan dan membangun peradaban yang dicita-citakannya tersebut.

Menjadi pertanyaan model peradaban apa yang menjadi tujuan ISIS di Indonesia yang jika melihat berbagai dimensi pembangunan peradaban apapun di dunia ini belum mengadopsi model kekerasan dengan menghalalkan membunuh manusia untuk mencapai konstruksi suatu negara?  Selanjutnya menjadi pertanyaan mengapa sebagian masyarakat Indonesia sangat rentan menerima ideologi peradaban yang sangat bertolak belakang dengan spirit ajaran agama apapun ?

Jihad,Infiltrasi,Peradaban

Fenomena kemunculan gerakan militer ISIS di Timur Tengah tepatnya ketika terjadi gejolak politik dan keamanan yang diwarnai perang saudara di Irak (2003–2011) dan Suriah yang menempatkan kelompok ISIS sebagai alternatif pergerakan perlawanan bersenjata melawan kekuatan militer Presiden Suriah dan kelompok-kelompok para militer baik di Irak dan Suriah. Pada 29 Juni 2014, kelompok ini menyatakan dirinya sebagai negara Islam sekaligus kekhalifahan dunia yang dipimpin oleh khalifah Abu Bakr al-Baghdadi dan berganti nama menjadi ad-Dawlah al-Islāmiyah atau Negara Islam (NI).
Paham dan dan gerakan ISIS sebetulnya sudah lama mengakar di Timur Tengah, namun penampakan eksisnya dengan konflik perang saudara di Irak dan Suriah. Sebagai kekhalifahan, ISIS berupaya melakukan kontrol terhadap agama, politik, dan militer atas semua Muslim di seluruh dunia termasuk keabsahan semua keamiran, kelompok, negara, dan organisasi tidak diakui lagi setelah kekuasaan khilāfah berdiri. Model peradaban yang ditawarkannya tersebut cepat mendapat simpatik, pada Maret 2015, ISIS menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Lewat kelompok lokalnya, ISIS juga menguasai wilayah kecil di Libya, Nigeria, dan Afghanistan. Kelompok ini juga beroperasi atau memiliki afiliasi di berbagai wilayah dunia yang memiliki ciri pemahaman yang sama dengannya seperti pada kelompok Wahabi yang juga banyak terdapat di Indonesia.
Produk yang mereka jual ke pasaran adalah membangun semangat jihad disesuaikan dengan definisinya. Padahal dalam agama Islam jihad dengan cara-cara membunuh dan menyebarkan teror seperti yang dilakukan ISIS sangat diharamkan agama  sesuai bunyi dari Surat Annisa : 93, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” Kiranya paham kelompok ISIS sudah tidak mengenal lagi ayat-ayat suci Alquran yang saat ini di alam pikiran rasionalnya bagaiman caranya menyebarkan ketakutan di kalangan masyarakat khususnya di wilayah Muslim agar mau mengikuti langkah-langkah yang telah dilakukannya dan bagaimana membunuh sebanyak-banyak manusia dengan tidak melihat latar belakang dan agamanya yang penting ledakan bom yang dipasangankan di badannya untuk mati secara jihad.
Persoalan dikutuk dan dicaci maki oleh umat manusia yang lainnya baginya hanya ujian di dunia agar mencapai tingkat ke imanan yang purna agar menjadi kristalisasi sikap tetap bersikukuh untuk terus melakukan berbagai aksinya. Tidak ada persoalan perlanggaran HAM yang dianggap mereka sebagai produk Barat dan tidak ada persoalan dosa dalam agama yang dianutnya karena manusia saat ini dilihatnya sudah melakukan dan mengikuti pemimpin yang dianggapnya sudah tidak sejalan dengan garis politiknya. Disinilah letak keegoisan pembangunan paham peradaban tersebut, bahwa merekalah yang paling benar dan pasti masuk syurga dibandingkan umat-umat yang lainnya.
 
Internaliasi pemahamannya tersebut dilihat dari durasi dari fenomena kemunculan dan penyebaran virus jihad dengan tindakan membunuh umat manusia, dengan cepat diadopsi oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Merilis data BNPT tahun 2016, total penangkapan kasus terorisme di Indonesia berjumlah 1.025 orang. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa internalisasi virus jihad tersebut sudah sangat berkembang di Indonesia. Sel-sel dan pengikut terorisme tersebut tentunya tidak berhenti dititik jumlah yang berhasil diungkap oleh BPNT tetapi mereka akan terus mencari ruang dan waktu untuk terus menyebarkan virus tersebut ke masyarakat. Merilis hasil penelitian yang dimuat oleh Kompas (19/2/2016) menyebutkan 52,3 persen  siswa mendukung kekerasan untuk solidaritas agama  dan 14 persen siswa membenarkan aksi peledakan bom yang dilakukan oleh teroris. Penelitian ini dilakukan terhadap 500 siswa. Hal ini mengindikasikan internaliasi paham dengan cara membangun peradaban dengan cara membunuh sudah di toleransi oleh tingkatan siswa di Indonesia. Kemampuan ISIS dalam membangun sprit dengan cara-cara membunuh, yang hal tersebut diluar nalar manusia dan atau pahamnya sama dengan cara-cara binatang yang sudah tidak memiliki nalar (akal) dalam berfikir. Bagaimana suatu peradaban tata dunia baru yang akan dibangun berpondasi menghalalkan pembunuhan antar umat manusia.
Aksi rentetan teror yang dilakukan ISIS sejak terungkapnya Bom Bali I dan II tahun 2002 sampai yang terkini di Kampung Melayu menyimbolkan bahwa paham radikalnya tidak akan mati dengan regulator yang dibuat pemerintah melalui UU Terorisme dan tindakan aparat keamanan. ISIS terus menyuburkan praktek-praktek membalikkan semua fakta dan opini yang berkembang di masyarakat yang seolah-olah upaya pemberantasan terorisme yang makin gencar  dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk tindakan refresif terhadap umat Islam. Tipu muslihatnya selalu berlindung atas umat Muslim padahal tindakan keji dan biadabnya seringkali dikemas dengan rapinya agar tidak mendapat perhatian dari masyarakat yaitu membunuh dengan pelanggaran fitrah suci agama atau memiliki nalar seperti hewan. Apakah pantas mereka disebut mujahid oleh sebagian masyarakat yang masih mengidolakan ISIS sebagai agen perubahan dunia untuk membentuk peradaban.
Peradaban terorisme dan cara-cara keji untuk membangun suatu negara yang diarsitekan oleh ISIS seolah-olah mencoba melawan nalar rasional manusia yang masih memiliki agama dan keyakinan bahwa tindakan terorisme sama rasionalnya dengan keyakinan dan pemahaman untuk sama-sama berbuat baik dalam membangun tata dunia baru. Penyamaan persepsi dan pemutarbalikan fakta dan opini yang disesatkan tersebut akan terus dibangun oleh ISIS untuk mensatukan pandangannya tersebut dengan pandangan rasional. Kesesatan pandangan tersebut harus kita lawan sampai tuntas. Perestiwa Bom Kampung Melayu dapat menjadi titik balik masyarakat untuk melawan paham konsep peradaban baru yang saat ini makin gencar ditawarkan oleh simpatisan ISIS di Indonesia, bahwa fondasi yang akan dicoba mereka bangun tindakan terorisme dan membunuh manusia. Hal tersebut adalah tindakan yang sangat bertolak belakang dengan semua ajaran agama serta belum ada sejarah di dunia membangun peradaban dengan cara-cara kekerasan dan membunuh bahkan di negara Indonesia yang sudah memiliki ideologi Pancasila, sudah dicoba dilawan dengan ideologi terorisme yang mempertontonkan suatu tawaran ide dan gagasan yang tidak memiliki nuansa agama, akal, moral dan budaya.

 

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv