BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lagu pun berkumandang, di sebuah ruangan yang cukup luas. Satu persatu nama disebut, dan mereka naik ke atas panggung.

Seroang wanita menggunakan kerudung abu-abu dan batik serta celana hitam terlihat menitikan air mata. Wanita yang memiliki tinggi sekitar 150 cm tersebut terus menggenggam lengan remaja yang lebih tinggi disebelahnya yang sempat meredakan isak tangsi.



Wanita tersebut merupakan satu dari 17 perwakilan yang naik ke atas panggung gedung Mahligai Pascar Sarjana UBL. Satu persatu para wanita dan pria yang naik ke atas panggung, nampak Kapolda Lampung Irjenpol Purwadi Arianto, Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, ketua KPU Provinsi Lampung Nanang Trenggono, dan ketua Bawaslu Lampung Fatikhatul Khoiriyah. Mereka silih berganti memberikan bingkai penghargaan kepada penerima piagam.
Mereka pun, tak kuasa menahan titihan air mata, ketika piagam diserahkan serta diiringi lagu Indonesia Jaya.

Para penerima piagam pun mulai turun, hampir seluruh diantara mereka menitihkan air mata. Namun, wanita tadi masih terus terisak. Sri Wahyuni namanya, wanita tersebut masih tak bisa menerima kepergian orang yang paling ia cintai, Agus Subroto (43). Sang suami merupakan pahlawan demokrasi, Karena harus gugur saat bertugas sebagai KPPS Sungkai Utara, Lampung Utara. Sang suami berpulang pada (29/4/2019) usai pengamanan TPS.

"Semoga suami saya husnul khotimah, dia sudah berjuang untuk pemilu," kata Sri, sambil terbata-bata dan berlinang air mata," katanya.
Tak ada bayangan atau tanda-tanda, kalau sang suami akan tiada, selama pelaksanaan Pemilu memang sang suami sering begadang dan kurang tidur, guna menyiapkan jalannya Pemilu di Desa Sungkai Utara, Kecamatan Sungkai Utara, Lampung Utara.

"Dia setelah pencoblosan, pening, lemes, padahal sudah diurut, tapi enggak sembuh-sembuh, kami juga kaget tiba-tiba suami sudah tiada," katanya.
Agus pun meninggalkan sang suami beserta anak tunggalnya Paswan (15) yang masih duduk di bangku SMP. Sang suami semasa hidup, hanyalah seorang petani ladang yang menggarap lahan milik orang lain.

"Saya juga bingung ke depannya, kami cuma keluarga biasa, suami saya petani ladang," katanya.


Berikut nama-nama petugas Pemilu yang meninggal:

1. Joni Witarsa Ketua KPPS Labuhan dalam, Tanjung Senang, Kedaton
2. Bambang Wijayanto, Ketua KPPS, Sepang Jaya, Kedaton
3. Sukarama , Ketua KPPS Sidodadi, Kedaton, 
4.Yulita, Ketua KPPS Sukabumi,
5. Agus Yusuf, Anggota PPs Jabung,
6. Nurhadi, KPPS Desa Muara Tenang, Tanjung Raya, Mesuji.
7.Irfan Hilmi, Ketua KPPS Pekon Tiyuh Momon
8. Bakrie Ismail, Ketua KPPS Desa Yosodadi, Metro Timur.
9. Tauhid, KPPS Labuhan Ratu, Sungkai Selatan
10. Agus Subroto, KPPS Desa Sungkai Utara, Sungkai Utara, Lampung Utara.
11. Ahmad Yani, Linmas Sri Bandung, Abung Tengah, Lampung Utara.
12. Iksanudin Yuda Putra, Ketua KPPS Desa Bagelen, Gedong Tataan, Pesawaran.
13. Laurentinus Sutopo, KPPs Bangun Sari, Negeri Katon, Pesawaran.
14. Aminin, Linmas TPS Gedung Tataan.
15. Nani, KPPS Desa Krisno Widodo, Tegineneng Pesawaran,
16. Hariyanto, KPPS Des Sinar Harapan, Pringsewu.
17. Supardi, Linmas PTS 3 Lampung Negara Harja, Pakuan Ratu, Way Kanan.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR