DAMPAK negatif dari perkembangan arus informasi berita online yang berjejaring dengan media sosial adalah merebaknya kabar palsu alias hoaks dengan beragam tema, yang ironisnya juga mudah sekali masuk ke lembaga pendidikan dan dipercaya oleh sivitas akademika, dari tingkat murid/mahasiswa hingga guru/dosen, dan bahkan bergelar profesor.
Misalnya, agitasi isu kebangkitan PKI, yang pada akhirnya mengarah pada sikap skeptis dan menebar aura benci kepada pemerintah. Aparat kepolisian baru-baru ini mengungkap sindikat MCA, penyebar hoaks, yang di antara pelakunya ada nama Tara Arsih (perempuan, 40 tahun), seorang dosen universitas ternama di Yogyakarta, yang ditangkap Polres Majalengka karena menyebar berita hoaks di laman Facebook-nya.
Fakta itu membuat banyak kalangan bertanya-tanya, mengapa seorang cerdik pintar seperti mahasiswa, guru, atau dosen tidak bisa memfilter dan dapat dengan mudah memercayai kabar yang belum tentu benar, bahkan ikut memproduksi sekaligus menyebarkan hoaks itu?
Setidaknya, ada dua kemungkinan. Pertama, terdapat kaum cendekiawan yang tidak mempunyai kesadaran dan kemampuan membaca peta politik, rendah wawasan kebangsaan, dan tidak paham dunia jurnalistik sehingga dengan sangat cepat menelan mentah-mentah berita yang didengar atau dibacanya. Kedua, sejumlah data penelitian menyebutkan bahwa banyak kalangan penyebar ujaran kebencian yang di dalamnya mengandung hoaks merupakan simpatisan partai politik dan bahkan pendukung fanatik tokoh tertentu untuk calon pemimpin level daerah maupun nasional (presiden dan wakil presiden).
Lalu, apa yang bisa dipetik dari fakta di atas? Inilah sisi lain dari perkembangan teknologi, terutama media online. Bahwa, di satu sisi memberikan kemudahan dan kebanggaan terhadap pencapaian peradaban ilmu, tetapi di sisi lain dapat pula digunakan secara negatif. Betapa mudah orang saat ini menyampaikan aspirasinya, beropini memojokkan individu dan atau kelompok lain, yang kadang dibungkus seolah-olah menyerupai liputan berita hasil reportase wartawan profesional.
Apakah penggunaan internet dan media online buruk? Tidak! Namun, ada baiknya mempertimbangkan apa yang diulas oleh Nicholas Carr dalam The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains (2010). Nicholas Carr melansir puluhan penelitian yang dilakukan para psikolog, pakar neurobiologi, pendidik, dan desainer web mengarah kepada kesimpulan yang sama, ketika kita online kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial.
Akibatnya, otak kita tidak lagi difungsikan secara maksimal dalam kegigihan membaca media cetak, tetapi beralih ke media online, yang dampaknya disadari atau tidak telah mengerdilkan fungsi pikiran.
Efek Internet dan Profesor Hoaks
Itulah sebabnya, jika seorang akademisi, berpendidikan tinggi sekelas dosen apalagi bergelar profesor, disibukkan oleh aktivitas internet. Asyik copy-paste berita-berita hoaks dan menyebarluaskannya berarti, jika merujuk pada temuan Nicholas Carr, telah menurunkan kadar inteligensianya.
Seorang akademisi mestinya disibukkan oleh aktivitas ilmiah dalam program riset dan penelitian, bukan menjadi katalisator atau penyambung lidah ujaran kebencian. Inilah yang maksud dalam tulisan ini sebagai ironi seorang profesor hoaks dalam arti sarkastis.
Efek negatif yang ditimbulkan penggunaan internet secara berlebihan, terlebih untuk kepentingan akademik seperti penulisan makalah, akan mendangkalkan kemampuan kognisi. Kalangan ini dicirikan, menurut Ninok Leksono (2011), sebagai orang yang tak sabaran, yang tak tahan berlama-lama membaca buku tebal atau artikel panjang. Yang lama dan yang bertele-tele sudah tak mendapat tempat lagi.
Fenomena yang demikian pernah dikhawatirkan oleh Marshall McLuhan pada 1960-an dalam bukunya yang terkenal, Understanding Media: The Extensions of Man. Inti Understanding Media adalah ramalan dan yang diramalkannya adalah hilangnya pikiran linear.
McLuhan menyatakan bahwa media listrik abad 20—telepon, radio, film, televisi—akan mengakhiri tirani teks terhadap pikiran dan indra kita. Halaman teks online yang dilihat melalui layar mungkin serupa dengan halaman teks tercetak, tetapi sebenarnya menggulung atau mengeklik dokumen web melibatkan tindakan fisik dan rangsangan saraf yang sangat berbeda dengan memegang dan membalik halaman buku atau majalah.
Begitu pula jika ditinjau dari kacamata psikologi-klinis, bahwa tindakan kognitif membaca tidak hanya berpengaruh pada indra penglihatan, tapi juga indra sentuhan. Ini bersifat rabaan dan visual. Semua kegiatan membaca, tulis Anne Mangen, seorang profesor pelatihan sastra Norwegia, merupakan kegiatan multiindra. Terdapat hubungan krusial antara pengalaman indra motorik terhadap wujud fisik hasil karya tertulis dan pemrosesan kognitif terhadap isi teks (Carr, 2010).
Dari argumen di atas, jelas menjadi keprihatinan bersama, jika dalam dunia pendidikan, seorang pendidik justru sibuk memproduksi dan menyebarkan berita-berita hoaks, sementara kewajiban akademiknya diabaikan.
Halaman editorial Media Indonesia (26/2/2018) mengungkap ulasan data keprihatinan ini, bahwa sebanyak 3.800 dari 5.366 profesor di Indonesia belum memenuhi kewajiban publikasi menulis di jurnal internasional. Jadi, bisa dibilang, hanya 1 dari 3 profesor yang menunaikan kewajiban akademiknya.
Wahai kaum terdidik, merdekakan pikiran kita dari noda hoaks—meminjam ungkapan jargon era pencerahan via Immanuel Kant: Sapere aude! ‘Merdekakan akalmu!’.

 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR