MENJELANG tutup 2017, proyek jalan tol trans-Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni—Terbanggibesar resmi mendapatkan suntikan kredit investasi sebesar Rp8,067 triliun. Injeksi modal dari sindikasi perbankan tersebut akan dipakai untuk mempercepat penyelesaian proyek yang digarap PT Hutama Karya (Persero) tersebut.
Tujuh bank yang mengucurkan dana segar untuk pembangunan tol ruas Bakauheni—Terbanggibesar meliputi Bank Mandiri, BNI, BCA, Bank CIMB Niaga, Maybank Indonesia, Bank ICBC Indonesia, dan Bank Permata. Adapun nilai investasi pembangunan ruas proyek tol yang masuk proyek strategis nasional Rp16,7 triliun. Komposisi skema pemenuhan pembiayaan, yakni melalui ekuitas Rp8,7 triliun dan pinjaman Rp8 triliun.
Seluruh modal untuk pembangunan JTTS berasal dari penyertaan modal negara dan penjualan surat utang korporasi. Perseroan memperoleh penyertaan modal negara sebesar Rp2,2 triliun sepanjang periode 2015—2016. Selanjutnya, akhir 2016 menuju 2017, PT Hutama Karya menerbitkan surat utang dan berhasil meraup dana Rp6,5 triliun.
Kita tentu menaruh harapan besar adanya pembiayaan infrastruktur sesuai dengan spesifikasi bangunan. Apalagi jika melihat besarnya dana yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan tol itu. Pembangunan infrastruktur memang membutuhkan biaya besar. Tetapi manfaatnya akan dirasakan generasi penerus hingga puluhan tahun mendatang. Jalan tol adalah juga investasi untuk anak cucu kelak. Jangan sampai pada masa mendatang mobilitas penduduk dan komoditas terkendala kerusakan jalan dan kemacetan. Oleh karena itu, penanggung jawab proyek tidak boleh asal-asalan karena akan memengaruhi kualitas megaproyek tersebut.
Niat Presiden Joko Widodo untuk membangun infrastruktur di Sumatera, khususnya di Provinsi Lampung, wajib untuk didukung semua elemen. Jika muncul persoalan seputar pembebasan lahan yang tinggal sekitar 1% lagi, dapat disalurkan melalui mekanisme, semisal lewat pengadilan. Proyek ini dengan alasan apa pun harus segera selesai, terlebih tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018.
Suntikan dana besar itu juga harus memantik semangat pemerintah daerah untuk turut serta meningkatkan kualitas infrastruktur di daerah. Akan terlihat jomplang jika proyek pemerintah pusat tidak diiringi dengan melesatnya pembangunan daerah.
Pengawalan percepatan pembangunan JTTS harus dilakukan. Harus dipastikan tidak akan ada penyimpangan serta berbagai pihak yang terlibat dapat melaksanakan tugas dengan baik.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR