SALAH satu desain interior yang tidak pernah ada matinya adalah interior dari kayu jati. Menata interior dari kayu jati bisa dibilang tidak pernah ada akhirnya. Makin lama dan tua kian mahal.

Interior dengan kayu jati memiliki kelas dan selera tersendiri, sehingga hanya orang-orang tertentu yang paham tentang jati khususnya jati dari Jepara.



"Jati tidak hanya memiliki nilai keindahan atau estetika, tetapi juga bernilai seni. Sehingga orang yang membeli jati, maka dia akan memiliki dua sekaligus," kata pemilik Jati Ukir Hj Rahmat, Rahmat.

Dia mengungkapkan jati ukir umumnya dipakai orang-orang dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Makin tinggi kelas ekonomi, kian mahal jati yang digunakan. Begitu juga dengan kelas jati kayu yang dipakai semakin tua, serta tidak ternilai harganya.

"Jati biasanya dipakai kelas menengah ke atas, ketika orang naik level, kelas jatinya semakin mahal, karena jati sendiri ada peringkatnya," ujar pria bertubuh gempal itu.

Rahmat mengungkapkan pada dasarnya semua interior bisa diisi dengan jati. Bukan sekadar pelengkap ruangan, jati memiliki unsur magis, dikerjakan hanya dengan mood, sehingga tidak heran jika memahat jati membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Jati punya unsur magis, ada ruhnya. Proses pengerjaannya tidak bisa sembarangan, pakai mood, kalau tidak mood pahatan tidak jalan. Dengan jati interor akan terkesan semakin hidup dan mewah."

 

Mewah

Menata interior dengan jati akan terlihat lebih hidup dan mewah jika ditempatkan di tempat yang luas. Untuk itu, tidak disarankan menggunakan interior jati di tempat sempit. Sebab, kayu jati membawa unsur karisma serta memiliki ciri identik.

"Jati ini kan besar, terkadang kalau tempatnya sempit dia tidak masuk, dan kayu jati ini berat tidak bisa dipindah-pindah. Sekali dia goyang, tidak pas penempatannya, akan pecah," ujarnya.

Dia mencontohkan kayu jati akan terkesan lebih hidup dan mewah untuk rumah-rumah berpotongan besar. Dengan demikian, jati tidak cocok untuk tempat sempit seperti ruko dan rumah-rumah bergaya minimalis.

"Kayu jati semakin polos semakin mahal karena harus dilihat urat seratnya, jati yang bagus tidak bisa dihaluskan," kata dia.

Menurutnya, jati ukir bisa didapatkan di mana saja, tapi jati jepara memiliki kualitas yang lebih unggul. Begitu pula dengan jenis kayu yang dipakai yakni jenis kayu perhutani yang usianya 30 tahun baru boleh ditebang. "Bedanya jati jepara dengan kota lain, Jepara lebih halus, lebih hidup. Masing-masing punya kelas," ujarnya. (M1) nur@lampungpost.co.id

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR