KALIANDA (Lampost.co) -- Warga Lampung Selatan mengeluhkan kelangkaan dan meroketnya harga gas elpiji ukuran 3 kg sejak pekan lalu. Ternyata kelangkaan disebabkan permintaan gas elpiji yang tinggi untuk mendukung mengairi sawah petani yang kekeringan.

"Penyebab kelangkaan masalah klasik yang setiap tahunnya terulang terus bila memasuki musim tanam yang bertepatan dengan musim kemarau panjang. Petani menggunakan elpiji untuk menjalankan mesin sedot air untuk mengairi sawahnya," kata Kabid Elpiji Hiswana Migas Lampung Adi Chandra saat dihubungi, Minggu (12/8/2018).



Menurut Adi, pihaknya telah melihat langsung kondisi di Lampung Selatan bersama Pertamina, Kamis (9/8). Dia mengatakan, berdasarkan hasil inspeksi mendadak harga ditingkat pangkalan normal. Tetapi ada saja konsumen yang memperjualbelikan kembali elpiji yang didapat dari pangkalan. "Pangkalan telah mengantisipasi dengan membatasi pembelian oleh konsumen langsung untuk menghindari sepekulan," katanya.

Dia mengatakan, petani telah memodifikasi mesin pompa berbahan bakar tabung elpiji. Hal itu dilakukan untuk menghemat biaya bahan bakar untuk mesin penyedot air. "Petani menggunakan Bright gas 5,5 kg atau kayu untuk memasak dirumah, sementara yang 3 kg untuk alat penyedot air untuk mengairi sawahnya," ujarnya.

Diakui Adi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Petani menggunakan elpiji untuk kepentingan lain tentu menyalahi aturan. Tetapi secara kondisional hal itu harus dimaklumi. Adi mengemukakan, saat ini harus dicarikan solusi membantu para petani sehingga tidak menggunakan elpiji 3 kg.

"Harus ada solusi, karena saya rasa kurang tepat juga menyalahkan mengingat ini rakyat miskin yg sebenarnya harus ada perhatian serius dari pemerintah daerah," ujarnya.

Langkah yang akan dilakukan pihaknya bersama Pertamina untuk mengatasi kelangkaan ialah melakukan operasi pasar di tiap kecamatan yang diduga terjadi permintaan tinggi. Operasi pasar akan dilaksanakan pekan depan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR