JAKARTA (Lampost.co)--Usai pembatasan pada sejumlah fitur di media sosial dan platform messaging termasuk WhatsApp, banyak pengguna menggunakan Virtual Private Network atau VPN. Dengan menggunakan VPN, pengguna bisa mengirimkan gambar dan video yang sebelumnya tidak bisa sama sekali dampak pembatasan tersebut. 

Namun ternyata dengan menggunakan VPN, ada bahaya yang mengintai perangkat pengguna. Dilansir dari laman Restoreprivacy, Rabu, 22 Mei 2019, berikut alasan berbahaya layanan VPN sangat berbahaya:



Mengandung Malware

Dari penelitian CSIRO, lebih dari 38 persen aplikasi gratis VPN mengandung malware alias program berbahaya. 
Malware bisa datang dalam bentuk apa pun dan yang tersembunyi pada VPN bisa mencuri data dan digunakan untuk menargetkan iklan dan email spam pengguna. Selain itu juga bisa membajak akun secara online. 

Mengumpulkan data pribadi

VPN dapat melacak untuk mengumpulkan data pribadi penggunanya. Studi CSIRO mencatat, 75 persen dari 283 VPN mengandung pelacakan pada kode sumber. Pengumpulan data ini bisa bernilai bagi iklan dan juga analitik. 
Salah satu contohnya layanan VPN gratis berbasis Kanada, Betternet. Aplikasi itu dilihat CSIRO mengandung 14 tracking libraries yang berbeda, selain juga ditemukan keberadaan malware tingkat tinggi. 
Dengan fakta itu, Betternet memasarkan layanannya sebagai solusi keamanan dan privasi. 

Akses data pengguna

Saat data pengguna dikumpulkan oleh VPN, akan dijual atau ditransfer pada pihak ketiga. Ini demi kepentingan keuntungan semata. Salah satu contohnya Opera Free VPN yang saat ini dimiliki konsorsium China. VPN itu menawarkan layanan gratis tanpa batas lewat browser, ini merupakan cara mereka mengumpulkan serta berbagi data pengguna. 

Mencuri Bandwidth

Sejumlah bisnis menggunakan VPN gratis untuk mencuri bandwidth dan menjualnya kembali pada pihak ketiga. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR