BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pengamat Transportasi Unila, Sasana Putra memaparkan penyebab dan hal apa yang dilakukan guna mengurai kemacetan, pada arus mudik dan arus balik di Jalan Tol Trans Sumatera, dan juga Jalinsum dari pelabuhan Bakauheni.

Perlu dipahami, kemacetan atau puncak arus mudik, selalu terjadi pada arus balik, dikarenakan ketika arus mudik, masyarakat yang pulang bisa mengatur jadwal keberangkatan sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan, ketika waktu pulang pemudik lebih memilih pulang ke tempat kerja, atau kediaman mereka di penghujung akhir libur, dengan alasan memaksimalkan hari libur. Sehingga, kepadatan kendaraan terjadi di waktu yang bersamaan lebih besar di arus balik.



"Secara psikologis, kan kalau mau pulang itu pasti hari-hari terakhir sisa liburan, kayak PNS misalnya, jadi ya numpuk dalam satu waktu di arus balik," ujarnya.

Kedua, kendala terbatasnya gate tol tak sepadan dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah, apalagi secara umum butuh waktu 30 sampai 60 detik waktu akses dan transaksi di gate tol yang sudah menggunakan sistem elektronik.
Hal serupa juga terjadi di gate tiket pelabuhan Bakauheni maupun merak.

Ketiga, kurangnya informasi real time dari pihak penyelenggara, baik dari satuan perhubungan, Pengelola Jalan tol, Kepolisian hingga pengelola pelabuhan. 

Informasi real Time manfaatnya pemudik nanti, bisa mengetahui secara terkini dan tepat waktu, titik mana saja di Tol atau jalinsum dan jalur mudik lainnya yang mengalami kepadatan, hingga pihak terkait bisa mengalihkan arus kendaraan ke luar tol, guna mencegah penumpukan berlebih.  Kemudian memaksimalkan penggunaan jalintim, jalinteng, jalinbar sebagi penyangga atau jalur sekunder, sambil menunggu kepadatan mulai terurai, dan masuk kembali ke jalur tol.

"Jadi misal padat di tol, sebelum bertambah bisa sistem buka tutup, dan dialihkan, misal di buang ke exit tol Kalianda, dari Bakauhenui nanti masuk lagi kalau sudah Renggang, tapi sepertinya sudah dilakukan hal tersebut oleh aparat," katanya.
Nah, solusi yang ditawarkan oleh Sasana, rinciannya, dengan terbatasnya gate tol, maka harus dibuat gate tol manual atau darurat.

Kemudian, harus ada informasi yang disebar dan disiarkan secara real-time via sosial media atau laporan secara berjenjang dan terus menerus.

"Jadi sebelum sampai ke titik macet pemudik bisa tahu, karena informasi valid sosial' media dari pihak penyelenggara, itu benar-benar berjalan dan real-time, jadi bisa ambil pilihan pemudik, bisa istirahat di rest area, atau keluar dari tol Sementara ambil jalinsum," katanya.

Sementara Dirlantas Polda Lampung Kombespol Kemas Ahmad Yamin mengatakan kendala-kendala tersebut sebenarnya sudah diantisipasi oleh personel kepolisian. Misalnya penebalan personel di pintu tol, di titik kemacetan,  guna mengurai arus lalulintas, secara 24 jam penuh.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR