KALIANDA (Lampost.co)--Unjuk rasa puluhan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Karya Utama, buntut dari dipecatnya enam pekerja di PT SBB yang terletak di Desa Tanjungratu, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan. 

Dalam orasinya, serikat pekerja menuntut PT SBB memperkerjakan kembali buruh yang di PHK sepihak oleh perusahan pengolahan batu andesit tersebut. 



"Meskipun pemecatan merupakan hak perusahaan, tapi harusnya sesuai prosedur, seperti memberi surat peringatan terlebih dahulu," kata koordinator lapangan, Edi, Jumat (18/1/2019). 

Para buruh yang berunjuk rasa menuntut keadilan kepada perusahaan tempat mereka bekerja selama ini. Sebanyak lima tuntutan puluhan buruh yang berunjuk rasa terhadap PT SBB.

Berita Terkait: Tolak PHK, Puluhan Buruh PT SBB Gelar Demonstrasi

Kelima tuntutan mereka yakni tolak pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak, pekerjakan kembali buruh yang di-PHK, jalankan nota anjuran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lampung Selatan No. 568/257/IV.07/XII/2018, lawan segala bentuk pemberangusan serikat pekerja dan berikan K3 bagi pekerja.

"Kalau tidak bisa memperkerjakan enam orang yang sudah dipecat, minimal satu orang saja yang kembali kerja," katanya. 

Selama sepuluh hari berunjuk rasa, kata dia, pihak perusahaan sudah pernah menemui mereka, tapi tidak ada titik temu dari tuntutan para buruh. "Sudah pernah menemui, tapi tidak ada jalan keluar," ujarnya. 

Dia menjelaskan untuk menyelesaikan perselisihan dengan pekerja atau buruh, perusahaan pengolahan batu andesit itu menggiring serikat pekerja ke jalur Peradilan Hubungan Industrial (PHI). "Bagi kami PHI merupakan kuburan karena memakan waktu yang cukup lama," kata dia. 

Sementara itu, Kepala Divisi Operasional PT SBB Dika mengatakan jika perusahaan mengumpulkan data mengenai hal tersebut. "Akan kami selesaikan secara hukum yang berlaku," ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR