BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Jabatan Pelaksana Tugas Wali Kota Bandar Lampung yang diemban Yusuf Kohar tidak lama lagi berakhir. Amanah yang ia emban sejak 15 Februari 2018 itu akan berakhir pada 23 Juni 2018.

Tidak terasa hampir 129 hari Yusuf Kohar memimpin pemerintahan di Kota Tapis Berseri ini. Meski tak bisa membuat anggaran dan program baru, namun banyak hal yang ia lakukan untuk memastikam program yang ada dapat berjalan dengan baik.



Masa kepemimpinannya, setidaknya sekitar Rp55 miliar Dana Bagi Hasil (DBH) dibayarkan oleh Pemprov Lampung ke Pemkot Bandar Lampung. "Ya namanya kita kan tidak bisa buat anggaran dan program baru, karena sudah ketok palu oktober november 2017, jadi kita hanya memastikan program itu berjalan," kata Yusuf Kohar, Kamis (21/6/2018).

Selain itu, dimasanya pula utang pemkot ke berbagai pihak berangsur dilunasi, terutama utang kesehatan dan utang pendidikan serta tukin, dan honor RT. "Utang kita sudah bayar RSUDAM Rp20 miliar lebih, RS Bintang Amin Rp2 miliar lebih, RS Dadi tinggal dikit lagi Rp1,7 miliar lagi, utang puskesmas, utang biling, tukin, bayar RT," kata dia.

Minimal, lanjut Yusuf Kohar selama menjabat Plt dirinya tidak sekedar menjadi penonton namun bisa mencurahkan daya upaya sehingga program Kota Bandar Lampung berjalan dengan baik. "Ya minimal ada aktivitas lah, ada yang kita perbuat selama empat bulan ini tidak hanya jadi penonton, harapan kedepan roda pemerintahan ke depan berjalan dengan benar, ada wali kota ada wakil, ada sekda ada asisten, supaya pembangunan itu berjalan sempurna," kata dia.

Dia berharap apa yang dilakukan pemkot kedepan benar benar demi kepentingan masyarakat, bukan semata kepentingan pribadi maupun kelompok. "Sehingga benar-benar WTP kita itu yang baik, bukan devisit, besar pasak daripada tiang. Apa yang kita lakukan harus untuk kesejahteraan rakyat bukan hanya sekedar berbuat karena kita sebagai tim sukses," kata dia.

Dia mengingkatkan bahwa sebagai abdi negara harus bekerja profesional demi rakyat. "Kan tidak ada itu orang herman orang yusuf kohar, kita mengabdi kepada negara bukan kepada herman bukan yusuf kohar, yang kita atur ini uang negara, jadi ada aturannya," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR