BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kepala Balai Besar Pengawasan Obar dan Makanan (BBPOM) Bandar Lampung Syamsuliani membenarkan jika UD Tiga Berlian yang bergerak di bidang garam milik Aryanto sedang dalam proses kepengurusan SNI, yang selanjutnya menjadi dasar utama, pengeluaran izin edar.

"Ia mereka itu lagi proses, dan tiga minggu lalu kan kami lakukan pengecekan, kami minta tutup, dan 500 pak garam kami bawa," ujarnya kepada Lampost.co, Jumat (13/9/2018).



Diduga kuat, kendati sudah diminta menyetop, Aryanto masih saja mencoba untuk memroduksi garam tersebut. Selain itu, sertifikat yang ditunjukkan oleh tersangka kepada awak media, bukan yang teregisteasi untuk izin edar.

"Ya mungkin dia bandel, sampai Polda datang ngangkat. Tapi surat yang dia tunjukan itu kita enggak paham. Yang jelas mereka belum teregistrasi, dan masih proses. Makanya kita melakukan pendampingan dari izin edar, karena mereka ini kan usaha mikro kecil menengah (UMKM), yang seharunya dipermudah dalam arti sesuai prosedur," katanya.

Syamsuliani juga membenarkan kalau, salah satu stafnya diminta oleh Polda untuk memberikan keterangan, seputar kandungan dan efek dari konsumsi garam tersebut.

"Benar emang, tapi kayaknya masih seputar pemantauan biasa, dan melihat izin edar, kalau uji Lab belum, di situ kan patokannya tak ada izin registrasi," katanya.

Menurutnya, secara ilmiah, untuk menentukan apakah garam tersebut bahaya dikonsumsi, harus sesuai dengan ketentuan dan pembuktian dengan uji Lab.

"Jadi harus dilihat baik di kemasan atau aslinya harus ada kandungan Yodium sebanyak 30 PPM, itu fungsinya cegah gondok, dan stunting," katanya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR