JAKARTA (Lampost.co) -- Munculnya hoaks orang dengan HIV/AIDS (ODHA) makin memperburuk stigmatisasi tentang mereka dan menghambat tenaga medis dan aktivis dalam mengkampanyekan pencegahan HIV/AIDS dan perawatan ODHA.

"Selain itu, stigmatisasi ini membawa konsekuensi dahsyat bagi ODHA, mulai dari diskriminasi sosial (termasuk dalam pekerjaan), isolasi di masyarakat bahkan keluarga, dan penghilangan hak-hak dasar terhadap mereka," kata Adyana Esti, dokter/tenaga medis Klinik Angsamerah Jakarta, dalam acara diskusi menangkal hoaks HIV/AIDS di Jakarta, Kamis (8/8/2018).



Selain Adyana Esti, pembicara lain Fajar Jasmin (aktivis HIV/AIDS) dan perwakilan dari UNAIDS.

Menurut Esti, setidaknya ada sepuluh hoaks terkait HIV/AIDS yang masyarakat perlu tangkal dan pahami faktanya, antara lain; HIV/AIDS dapat ditularkan melalui penggunaan
pisau cukur secara bergantian dalam keluarga maupun di tempat potong rambut.

"Penggunaan pisau cukur bergantian tidak menularkan HIV/AIDS karena virus tersebut mudah mati di udara bebas," katanya.

Penggunaan pisau cukur bergantian tidak disarankan, bukan karena penyebaran HIV/AIDS, melainkan karena masalah higienitas.

Hoaks lain, bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui penggunaan alat makan secara bergantian antara ODHA dengan orang sehat. Padahal virus HIV/AIDS tidak dapat ditularkan melalui
penggunaan alat makan secara bergantian, karena virus yang mudah mati di udara bebas, dan air liur tidak mengandung cukup virus untuk ditularkan.

HIV/AIDS hanya dapat menyebar melalui cairan tubuh seperti darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI).

Meurut  Esti, masyarakat masih rancu dalam membedakan HIV dan AIDS. Hal ini menciptakan persepsi bahwa orang dengan HIV sudah pasti terkena AIDS. “Ini yang salah kaprah di masyarakat. Orang dengan HIV masih bisa hidup normal dan mengejar mimpi mereka asal, mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. HIV tidak selalu berakhir dengan AIDS, namun
orang dengan AIDS sudah pasti terserang virus HIV," ujarnya.

HIV adalah jenis virus (human immunodeficiency virus) yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini menyerang T cell, yang merupakan salah satu bagian dari sel darah
putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh saat ada kuman patogen yang masuk ke dalam tubuh, termasuk virus dan penyakit. Bila T cell rusak, maka tubuh akan kehilangan kemampuan mengenali virus dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Sementara AIDS adalah kondisi yang timbul akibat rusaknya sistem pertahanan tubuh karena virus HIV. Sehingga, orang dengan AIDS adalah orang yang terserang virus HIV. Rentang waktu HIV berubah menjadi AIDS sangat relatif, tergantung treatment dan kecepatan penanganannya.

Harapan hidup orang yang terinfeksi HIV bisa selayaknya orang normal bila ditangani dan mendapat pengobatan yang tepat.

Stigmatisasi juga muncul karena hoaks dan pemahaman masyarakat yang masih salah kaprah terkait HIV/AIDS. Beberapa stigma yang kerap muncul adalah virus ini diasosiasikan sebagai penyakit mereka yang berhubungan dengan sesama jenis.

Padahal, menurut data yang dilansir Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan pada Desember 2016 lalu, infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual (4.672 laporan yang didapat), hubungan seksual sesama jenis (3.604 laporan), lain-lain (2.448 laporan), dan penggunaan narkoba dengan jarum suntik (360 laporan).

Sementara terkait dengan AIDS, jumlah kumulatif AIDS yang dilaporkan menurut jenis pekerjaan sampai dengan Juni 2016 menunjukkan ibu rumah tangga justru paling banyak hidup dengan AIDS (11.655 orang), wiraswasta (10.565 orang), karyawan swasta (10.488 orang), dan pekerja seks justru lebih rendah (2.818 orang).

Dalam kasus ini, ibu rumah tangga justru menjadi kelompok yang paling rentan terpapar virus ini karena perilaku seksual pasangannya.

Menurut data yang sama, jumlah kumulatif penderita HIV di Indonesia sampai Juni 2016 sebanyak 208.920 orang, sedangkan total kumulatif kasus AIDS sebanyak 82.556 orang. Infeksi HIV paling banyak terjadi pada kelompok usia 25-49 tahun, dan kelompok usia 20-24 tahun.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR