KALIANDA (Lampost.co)--Sejumlah sopir truk angkutan barang lintas Jawa-Sumatera yang menjadi korban pungutan liar alias pemalakan preman jalanan pascaambrolnya jembatan Way Mesuji di Perbatasan Provinsi Lampung dengan Sumatera Selatan pertengahan Juni 2019 lalu, mengaku enggan melapor ke Polisi, karena berbagai alasan. 

Mereka beralasan membuat laporan ke polisi hanya akan memperlambat proses pengantaran dan bongkar muatan barang, males ribet, dan membuang waktu percuma. 



"Males ribet dan buang waktu saja lapor polisi. Iya kalau ketangkep, kalau belum kan kita yang saban hari hidup di jalanan jadi sasaran preman -preman itu," kata Alwan (43), sopir truk tronton saat ditemui di rumah makan Minang Raya Jalinpantim kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Jumat (5/7/2019) siang. 

Meski diakuinya para preman jalanan yang menawarkan jasa kawalan dengan mengutip sopir truk sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu lebih per truk, agar lolos dari jebakan kemacetan panjang di lokasi jembatan ambruk itu, telah menguras uang jalan para sopir truk lintas Sumatera-Jawa. 

"Yang penting kami selamat dan barang muatan bisa sampai tujuan, walau kami terpaksa membayar mahal para preman yang menawarkan jasa kawalan dengan rute jalan desa tembus jalan tol KayuAgung-Terbanggi Besar," ungkap Alwan diamini beberapa teman seprofesinya kepada Lampost.co. 

Meski uang habis terkuras, mereka masih ada harapan bisa menyeberang ke Jawa dengan bantuan pengurus jasa penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni yang telah menjadi mitra puluhan tahun armada truk angkutan barang. 
"Itulah pentingnya kami punya pengurus di pelabuhan.  Setiap kami kehabisan uang jalan, mereka lah yang bisa membantu kami, " pungkasnya. 

Hal senada diungkapkan Sino Ajo (43), salah satu pengurus jasa penyeberangan truk di Pelabuhan Bakauheni. Ia menyebutkan sekitar 50 armada truk angkutan barang yang menjadi mitranya meminjam uang jalan dengan jumlah bervariasi, kisaran Rp1 juta hingga Rp4 juta per armada. 

"Mereka rata rata mengaku kehabisan uang lantaran jembatan putus di Mesuji. Ada yang bilang uang habis karena tertahan beberapa hari dan ada yang bilang uang habis untuk membayar jasa kawalan dan sebagainya, " ujar Sino. 
Meski uang yang dikeluarkan cukup besar, Ia mengaku tidak takut para sopir truk tersrbut lari dari tanggung jawab. Karena sebelumnya ia telah mengantongi SK dari pemilik armada angkutan barang,  baik perusahaan ataupun perorangan.

"Kami komunikasinya dengan bos mereka. Kalau bos mereka bilang oke,  maka uangpun saya berikan kepada sopir yang kehabisan uang jalan tersebut," tutupnya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR