BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Jaksa pada Kejaksaan Tinggi Lampung menjatuhkan hukuman berat terhadap Muchlis Adjie (51), mantan kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Kalianda, Lampung Selatan, dengan pidana penjara selama 20 tahun kurungan, Rabu (2/1/2019).

Jaksa Rosman Yusa, pengganti Jaksa Andri Kurniawan, di persidangan di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, menuturkan berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan, jaksa sependapat jika terdakwa memenuhi unsur Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.



Terdakwa, kata Yusa, tanpa hak atau melawan hukum melakukan percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual-beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan 1 dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya lebih dari 5 gram.

Unsur melakukan percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor telah terbukti berdasarkan fakta persidangan, dengan terdakwa telah mempermudah atau mendorong dilakukannya kejahatan oleh orang lain.

Marzuli Yunus merupakan narapidana dalam kasus narkotika bebas memiliki dan menggunakan ponsel selama di dalam Lembaga Pemasyarakatan, termasuk dengan leluasa mendapatkan kebebasan menerima kunjungan tamu di luar jam kunjungan atas persetujuan dari terdakwa melalui komunikasi aplikasi WhatsApp antara Marzuki dan terdakwa.

Fasilistas lain yang diberikan terdakwa, di antaranya juga Marzuli diberi kemudahan surat berobat tanpa melalui pemeriksaan klinik LP Kalianda. Selanjutnya, surat berobat tersebut disalahgunakan oleh Marzuli untuk pulang ke rumah dengan pengawalan petugas LP, dan atas kejadian tersebut petugas LP yang mengawal Marzuli yaitu saksi Sumaryo, dan melaporkan kejadian tersebut kepada terdakwa, tapi terdakwa tidak memberikan reaksi bahkan tidak melakukan tindakan apa pun.

Selain fasilitas tersebut, terdakwa beberapa kali menemui Marzuli di selnya, termasuk juga di ruang kerjanya,  kemudian tidak melakukan tindakan ketika saksi Sutarjo melaporkan adanya temuan narkotika dan ponsel di kamar Marzuli.

Menurutnya, atas kemudahan dan fasilitas yang didapatkan tersebut, terdakwa mendapatkan imbalan, baik berbentuk uang maupun barang yang diterima, baik langsung maupun tidak langsung oleh terdakwa berupa transfer berdasarkan bukti rekening koran milik terdakwa yaitu berupa sejumlah uang.

Uang itu dikirim melalui SMS Banking yang dilakukan Marzuli dari dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kalianda dengan menggunakan rekening atas nama Komala Sari, ke rekening atas nama terdakwa.

"Rekening-rekening tersebut oleh terdakwa dipergunakan untuk menerima transfer dari napi atas nama Marzuli YS, seperti transfer 22 Maret 2018 yang diterima terdakwa ke rekening Tahapan BCA senilai Rp5 juta, Rp2 juta, hingga  Rp10 juta," kata Jaksa.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR