MENYAMBUT Hari Lahir Pancasila yang ke-74 tahun pada 1 Juni, izinkan sahaya menuturkan selayang pandang jalan cerita kelahiran Pancasila dari sisi religiositas sesuai rubrik Setitik Air yang religius dengan jumlah kata yang terbatas. Ihwal ini saya tuliskan sebagaimana diungkapkan Sukarno dalam buku yang ditulis wartawati Amerika, Cindy Adams, dan dialihbahasakan Major Abdul Bar Salim (1966), Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Ada satu masa selama pengasingan Bung Karno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (Bung Karno menyebutnya Pulau Bunga), ia menghabiskan waktu berjam-jam merenungkan lima dasar falsafah hidup bangsa Indonesia, Pancasila, di bawah pohon kayu.

Namun, Bung Karno dengan tegas menolak jika ia disebut sebagai pencipta Pancasila. Ilham yang datang kepadanya diturunkan oleh Tuhan. Menurutnya, apa yang dikerjakannya hanyalah menggali tradisi hingga jauh ke dasarnya dan keluarlah lima butir mutiara yang indah yang kini dikenal sebagai Pancasila. Dari petikan kisah itu, Bung Karno tampak sebagai orang yang selalu ingat dengan Tuhannya.



Tidak hanya itu, sesaat sebelum mengumandangkan pidato lahirnya Pancasila yang monumental pada 1 Juni 1945, malamnya ia berjalan sendirian ke pekarangan rumahnya. Bung Karno memandangi bintang-bintang di langit. Ia mengagumi kesempurnaan ciptaan-Nya. Bung Karno meratap dalam hati. "Kepada Tuhan kusampaikan, Aku menangis dalam dadaku karena besok aku akan menghadapi detik bersedjarah dalam hidupku. Dan, aku memerlukan bantuan-Mu." (Hlm. 300). Kembali, ia memerlukan pertolongan Tuhan. Puncaknya saat Bung Karno kian menegaskan bahwa semua pemikiran dan ucapan dalam pidato monumental itu bukanlah kepunyaannya. Semua hanyalah atas kehendak Allah.

“Aku sadar, bahwa buah pikiran jang akan kuutjapkan bukanlah kepunjaanku. Engkaulah jang membeberkannja di mukaku. Hanja Engkaulah jang memiliki daja-tjipta. Engkaulah jang membimbing setiap napas dari kehidupanku. Turunkanlah pertolongan-Mu... kepada-Mu kumohon pimpinan-Mu, kepada-Mu kumohonkan ilham guna di hari esok.” (Hlm. 301).

Berdasarkan kisah sepintas lalu tersebut, tampak betapa Pancasila tidak bisa dilepaskan dari Sang Khalik. Maka, tidaklah mengherankan jika sila pertama hari ini berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Tetapi, yang paling mengagumkan adalah saat di bui, Bung Karno mempelajari semua agama. Menurutnya, hal itu untuk melihat apakah ia termasuk orang yang sesat dan hilang. Bahkan, ia mempelajari agama Kristen pada Pastor Van Lith.

Ya, Bung Karno secara khusus menaruh perhatian pada kisah Khotbah Yesus di atas Bukit yang termaktub dalam Matius Pasal 5 Ayat 1—12. Saya berasumsi oleh karena Bung Karno sangat gigih memperjuangkan prinsip kemerdekaan bagi bangsanya, maka Matius Pasal 5 Ayat 10 yang paling mewakili pemikirannya: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR