BERKALI-KALI kami bertiga terlelap dalam perjalanan, tetapi mata pria paruh baya itu tetap terjaga. Pak Ujang namanya. Dialah sopir mobil yang disewa untuk membawa kami ke Lampung Barat.

“Ini sudah makanan sehari-hari, Mas,” ujarnya saat kami rehat di Bandarjaya, Lampung Tengah. “Yang penting ini!” lanjutnya sambil mencangking segelas kopi.



Perut sudah terisi, kopi pun sudah diseruput. Kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang halan, kami bercerita soal pahit-manis pekerjaan masing-masing.

Saat tengah asyik bercengkerama, tiba-tiba suara Pak Ujang terbata-bata. Dia tampak canggung. “Maaf, Mas, sebelumnya...,” ucap Pak Ujang.

Mendengar itu, saya pun menimpali, “Ya, Pak, ada apa?”

“Kalau boleh, nanti pas pulang, saya minta izin mampir ke Kotabumi. Mau nengok ibu,” pinta Pak Ujang.

“Oh, silakan, Pak,” timpal saya.

Hari pertama kami penuh diisi dengan kegiatan. Hari kedua, kami memutuskan kembali ke Bandar Lampung.

Saat tiba di daerah Bukitkemuning, Pak Ujang kembali memohon sesuatu. “Mas, mau minta tolong lagi. Kalau boleh, uang jalannya saya pakai dulu. Buat ngasih sangu untuk ibu saya,” ucap Pak Ujang.

Sejak awal saya memang sudah mengalokasikan uang rental mobil dan jasa sopir. Maka, uang jasa Pak Ujang selama dua hari, Rp300 ribu, langsung saya berikan saat kami tiba di depan gang rumah ibunda Pak Ujang.

Enam lembar uang pecahan Rp50 ribuan itu dia terima. Selembar dimasukkan dompet, lima lembar lainnya dia pegang.

“Ibu saya sudah sepuh banget, Mas. Sudah mulai pikun. Matanya pun sudah enggak bisa lihat. Ini untuk ayuk saya yang ngerawat ibu,” katannya sambil memasukkan uang yang dia pegang ke saku bajunya.

“Kalau uangnya Bapak kasih semua, memang istri enggak marah, Pak?” tanya saya.

“Saya sudah izin sama istri. Istri cuma minta sebagian untuk uang dapur. Alhamdulillah, istri pengertian, karena kan enggak tiap hari bisa ngasih ibu,” katanya.

“Mudah-mudahan, besok dapet uang jalan lagi,” harapnya sambil bergegas turun dari mobil. Dia pun menyusuri gang kecil menuju rumah bilik di ujung gang, rumah masa kecilnya.

Masya Allah! Kami bertiga terperanjat. Betapa cintanya seorang anak terhadap orang tuanya. Meski tengah bekerja, Pak Ujang sempatkan menyambangi sang ibu untuk mencium tangan dan memeluk tubuh renta sang ibu.

Bahkan, dengan izin sang istri, meski mendapat uang jalan yang pas-pasan, sebagian besar rezekinya dia berikan untuk ibunya.

Pak Ujang tak peduli sang ibu telah pikun dan sudah tak mampu lagi melihat anaknya itu. Yang dia tahu, ibunya adalah sosok yang mengurusnya sejak kecil.

“Sekarang ibu sudah kayak anak kecil lagi, Mas. Gantian, dulu saya diurus, sekarang kewajiban kami, anak-anaknya, untuk mengurusnya,” ucap Pak Ujang dengan haru.

Kami pun beranjak pulang, tentu dengan rasa rindu yang menggebu pada sosok ibu.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR