JAKARTA (lampost.co) -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi Juli 2018 sebesar 0,28 persen terbilang cukup terkendali. Namun BPS meminta pemerintah tetap mewaspadai pergerakan inflasi ke depan karena potensi kenaikan harga minyak dunia.

"Kita harus tetap waspada, dari eksternal ada bayang-bayang kenaikan harga minyak dan harga beberapa komoditas," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu (1/8/2018).



BPS mencatat inflasi secara tahun kalender atau year to date (ytd) pada Juli 2018 sebesar 2,18 persen. Sedangkan secara tahun ke tahun atau year on year (yoy) inflasi tercatat sebesar 3,18 persen.

Selain perkembangan harga minyak, BPS juga meminta pemerintah mewaspadai kenaikan inflasi pada akhir tahun nanti. Pasalnya, inflasi Desember biasanya mengalami kenaikan seiring dengan libur panjang akhir tahun.

"Kita perlu memberi perhatian khusus pada inflasi Desember, karena biasanya Desember kalau dilihat tren tahun sebelumnya ada kenaikan karena ada libur panjang natal dan persiapan tahun baru," jelas dia.

Pada Juli 2018, inflasi inti tercatat 2,87 persen (yoy) dengan andil 0,24 persen, harga pangan bergejolak (volatile food) 5,36 persen (yoy) dengan andil 0,9 persen dan harga yang diatur pemerintah (administered price) 2,11 persen (yoy) dengan andil 0,68 persen.

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR