BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Melambungnya nilai tukar mata uang dollar terhadap rupiah ke level Rp14.500 per dollar dikhawatirkan akan semakin membuat industri manufaktur semakin berjalan lambat dengan harga bahan baku yang semakin besar dan biaya produksi menjadi tinggi. Namun, untuk tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah bisa mengandalkan sektor pariwisata sebagai solusinya.

Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi Lampung, Muhammad Kadafi menjelaskan saat ini Lampung masih terpaku pada usaha yang kondisinya berpengaruh pada bahan baku impor dan mata uang dollar. Padahal, disamping itu, Lampung memiliki potensi besar di dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.



"Pemerintah khususnya di tingkat provinsi perlu melahirkan solusi usaha di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Saat daerah fokus pada pendapatan dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam dari sektor pariwisata, maka naiknya harga dollar itu tidak terlalu berpengaruh lagi," kata Kadafi kepada lampost.co, Minggu (22/7/2018).

Untuk mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif, lanjutnya, Lampung perlu meningkatkan akses transportasi seperti dibukanya Bandara Internasional Radin Inten II, sehingga akses wisatawan bisa langsung ke Lampung tanpa transit ke Jakarta. Sebab, pariwisata sudah menjadi magnet dalam dunia usaha.

"Bicara lifestyle industri maka tidak lepas dari pariwisata, ekonomi kreatif, dan makanan, karena ekonomi kreatif itu kan bukan hanya produk barang saja, tetapi makanan juga menjadi terobosan dalam dunia usaha. Kalau mengurusi pariwisata tidak pusing lagi dengan naiknya dolar, karena kita tetap bisa dapat untung," ujarnya.

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR