BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Yunisar pemilik Inal’s Craft punya visi yaitu membuat kerajinan tangan (handmade) Tapis Lampung mendunia. Namun belakangan ini, ia tak hanya ingin mengenalkan Tapis Lampung saja, melainkan Lampung ke belahan dunia. “Itu visi saya berubah sewaktu presentasi di Batam,” ujar Inal, sapaannya, Kamis (28/6/2018).

Inal mendapat penghargaan UKM – Talent Innovative pada Al Ahmadi Award se-Sumatera di Batam, 2017 lalu.  



Kegigihannya pada bidang kreatif membuahkan hasil. Ia mendapat hadiah berkeliling Malaysia dan Thailand 11—15 Desember 2017 lalu.

Inal’s Craft juga mendapat penghargaan pada ajang Inotek, Wirausaha Inovatif Sumatera yang dihelat Sampoerna di Lampung tahun lalu. Ia mendapatkan dana untuk merenovasi ruang garasi menjadi galery Inal’s Craft.

Ditemui Kamis (28/6), Inal menceritakan usaha kreatifnya itu dimulai 2015 silam. Sore itu, Inal membawa dua clutch bag berhias Tapis Lampung memakai beang warna emas. Jemarinya menusukkan pengait besi magnet tas kecil ukuran 20x30 cm itu.

Berbagai aksesoris koleksi Inal’s Craft.

 

Awalnya ia hanya menjual produk tas pesta – clutch bag. Namun selang waktu berjalan, ia mengembangkan produk lainnya seperti aksesoris dan busana.

Produknya sempat dipakai oleh istri Gubernur Lampung, Yustin Ficardo. Sejak itu, produknya makin dikenal.

Suksesnya Inal’s Craft tak luput dari jasa ekspedisi. Jasa ekspedisi ia gunakan untuk mengirim berbagai kabupaten di Lampung hingga nusantara. Inal juga punya kerjasama dengan daerah lain seperti Jakarta, Jogjakarta, dan Tasikmalaya. Di Jakarta, Ia menggunakan jasa percetakan untuk memproduksi hijab motif tapis Lampung. Lalu, di Jogjakarta, ia memesan aneka logam atau kalung. Di Tasikmalaya ia memesan bahan kain anyaman pandan. Menurutnya, produksi di tiga kota itu cukup baik, sehingga ia memesan langsung dari ketiga daerah itu.

Sementara rumah produksi untuk mengkombinasikan tapis lampung berada di rumahnya di Rajabasa, Bandar Lampung.  

Inal menggunakan Jasa JNE untuk pengiriman dari Jakarta dan Jogjakarta. Sementara dari Tasikmalaya ia menggunakan jasa ekspedisi lainnya, karena di pusat perajin masih belum terdapat JNE.

Alasannya menggunakan JNE yaitu selain terjamin pengirimannya ia juga bisa mentracking barang lewat nomor resi pengiriman.

Bahkan, Akhmad Wahyudi Ringgala (kiri) selaku marketing menggunakan JNE mobile di ponsel pintarnya.  Ia pula menjadi member JNE Loyalty Card (JLC).

Dari pengalamannya, menggunakan jasa JNE sangat tepat waktu apalagi saat proses pengiriman tipe yakin esok sampai (YES). “Kalau jasa lain belum tentu, kadang suka deg-degan kalau barang belum sampai ke konsumen,” ujarnya.

Inal’s Craft memiliki galery di Jalan Way Abung I No. 25, Pahoman, Bandar Lampung. Pemilihan lokasi ini dinilai strategis karena berada di pusat kota.  

Menurut Inal, suksenya Inal’s Craft juga berimbas pada suksesnya usaha kecil menengah (UKM) perajin Tapis Lampung lainnya.  Saat ini ia juga memberi pelatihan kepada perajin Tapis Lampung lainnya di Kotabumi dan Pesawaran, Lampung.

Inal percaya, kekayaan Lampung bukan hanya dari Tapis Lampung. Inovasinya ia lakukan tanpa hentinya. Baru-baru ini, ia membuat busana mirip kimono, tas dari kulit tanaman, buket bunga, serta hijab printing.Semua produknya dihiasi Tapis Lampung.  

Produk yang sedang booming adalah Hijab Tapis Lampung Printing. Ia jual seharga Rp300 ribu per pcs. Produksinya baru setahun. Namun, peminatnya sudah seribuan pembeli. Lagi-lagi, ia dibantu oleh jasa ekspedisi untuk pengiriman barang. Beberapa produknya sudah dipesan oleh warga Indonesia seperti di Australia, Korea, maupun Hongkong.

Ia paham produknya spesial untuk kalangan menengah keatas. Meski produk Tapis Lampung lainnya menawarkan produk dengan harga lebih murah, tapi Inal yakin produknya punya kelebihan. “Saya jual karya bukan bahan,” ujarnya.

Koleksi kerudung dengan motif tapis di Inal’s Craft.

 

Khusus pengiriman barang, Inal punya pengamalaman. Jasa ekspedisi JNE yang ditemuinya di Bandar Lampung kadang masih melihat ukuran kardus tas atau aksesorisnya dihitung berdasarkan volume bukan berdasarkan beratnya. Kondisi ini yang mmebuat ia berpikir untuk mengubah kemasan yang baik sehingga perhitungan jasa kurir tidak berdasarkan volume karena harganya lebih mahal. Akhirnya ia bertanya ke JNE. Saat ini ia sudah mempunyai formula pengemasan  yang baik sehingga proses pengiriman bisa diukur berdasarkan bobot.

Inal telah mengikuti berbagai agenda nasional seperti Jakarta Fashion Week maupun Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT). Dari berbagai pameran itu, yang paling berkesan ialah saat Inalmengikuti Handmade Korea Summer 2017 yang diselenggarakan di Samseongdong COEX, Seoul 20-23 July 2017. Inal melihat, produk kreatif terbaik Indonesia dan dari belahan dunia lainnya dipajang. Ia terus mengamati produk kreatif itu. “Prinsipnya amati, tiru, dan modifikasi,’ ujarnya.

Inal punya mimpi besar lainnya. Ia bercita-cita ingin membuat desa perajin kreatif di Lampung melalui produksi pelepah pisang. Menurutnya, hasil ekspor daerah lain di Indonesia sudah banyak di lakukan ke berbagai negara.  Produknya simpel, berupa dekorasi rumah dan aksesoris. Ia tak ingin Lampung hanya mengekspor hasil bumu dan pertanian saja. Dari informasi yang diterimanya, ada produk Lampung yang sudah diekspor, namun memakai nama perusahaan di jakarta. “Harus ada produk lainya yang di ekspor dari Lampung,” ujarnya.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR