LAMPUNG POST | lampost.co logo
LAMPUNG POST | Impor Beras
Ilustrasi. (Foto: static6.com)

Impor Beras

Pada era 1970-an, komoditas beras menjadi isu sentral perekonomian di negeri ini. Pada masa itu pemerintah berusaha kuat untuk mengurangi impor beras.
Di sisi konsumsi, masyarakat didorong melakukan diversifikasi pangan untuk menggantikan nasi sebagai makanan pokok. Aneka kudapan tradisional dengan bahan baku nonberas dihidupkan kembali. Sementara kawasan dengan makanan pokok selain nasi diminta mempertahankan ciri khas masing-masing, semisal gaplek untuk Gunungkidul, jagung untuk Madura, serta sagu untuk Maluku dan Papua. Gandum impor pun mulai masuk pasar nasional untuk membantu fungsi nasi sebagai pengganjal perut rakyat.
Di sisi produksi, pemerintah menggulirkan program Panca Usaha Tani, Intensifikasi Khusus (Insus), dan Supra Insus. Berbagai bendungan besar berikut saluran irigasi dibangun dan dibarengi dengan pemberian subsidi benih, pupuk, dan obat-obatan.
Hasilnya cukup memuaskan. Pada pertengahan 1980-an Indonesia mampu mencapai swasembada beras. Sempat muncul kekhawatiran mau dijual ke mana jika surplus beras berlanjut sebab kebutuhan beras di pasar dunia tidaklah sebesar gandum.
Namun, pencapaian swasembada itu tidak berlangsung lama. Memasuki era 1990-an, produksi beras kembali merosot. Perubahan pola perekonomian dari sistem agraris menjadi konglomerasi membuat kaum muda tak lagi bangga menjadi petani. Anak-anak muda itu lebih bangga bekerja sebagai pegawai bank atau karyawan di perusahaan besar. Pada saat yang sama kawasan industri dan properti melahap ratusan ribu hektare sawah produktif. Sejak itu pula, impor beras sudah menjadi tradisi.
Ketika produksi turun, satu-satunya cara hanya dengan impor. Salah satu catatan suram, pada 2011 Indonesia mengimpor 2,75 juta ton beras dan tahun berikutnya (2012) turun menjadi sekitar 1 juta ton beras. Vietnam menjadi negara pengekspor terbesar ke Indonesia dengan kontribusi 50%, disusul Thailand (27,5%), India (17,5%), Pakistan (4,2%), dan Myanmar (0,8%).
Cara termudah memang mengimpor beras. Dengan impor, suplai barang terjamin dan harga pun terjangkau. Tetapi, impor itu berarti kita membeli dari negara lain. Uang milik kita berpindah ke negara lain. Andai tidak mengimpor, uang tersebut tetap berputar di masyarakat kita. Belum lagi adanya ekonomi biaya tinggi akibat dominasi kelompok tertentu alias mafia beras.
Di era Presiden Jokowi, semangat kedaulatan di bidang pangan kembali dihidupkan. Petani-petani kita bahkan sempat mengekspor beras medium. Kini ketika harga beras melonjak karena dampak banjir dan tingginya permintaan hendaknya pemerintah mulai membuka opsi impor sesuai kebutuhan dalam jangka terbatas. Impor perlu dilakukan untuk menekan harga sebab bagaimana pun kenaikan harga beras akan menyulitkan masyarakat lapisan bawah.

 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

Comments
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv