MENGGALA (Lampost.co)--Di tengah berbagai keterbatasan fisik dan perekonomianya, tak menyurutkan kegigihan pemuda ini untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang perancang bangunan ternama.

Pemuda yang kini berusia 21 tahun itu, harus tabah menerima takdirnya. Ia tidak dapat menggunakan kedua kaki dan tangannya dengan maksimal akibat mengalami kelumpuhan.



Pemuda itu adalah Aziz Hermawan asal Kampung Sukarame, Kecamatan Meraksaaji, bercita-cita ingin menjadi arsitek terkenal dan bermimpi membangun panti sosial untuk para penyandang disabilitas yang tidak mengenyam bangku sekolah dan juga tunawisma. Aziz menderita kelumpuhan total pada kedua kaki dan tangan kirinya sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA).

Aziz menceritakan, sekitar 9 tahun lalu saat dirinya dibangku sekolah menengah pertama (SMP) terjatuh dan mengalami luka akibat tertusuk kayu. 
Meski sempat mengalami luka, kata Aziz, tidak langsung membuat tubuhnya lumpuh. Kelumpuhan terjadi ketiga dirinya telah duduk di bangku MA. Pada saat ini tubuhnya mengalami demam tinggi dan membuat kaki dan tangannya tidak dapat digerakkan.

"Lumpuhnya karena akibat jatuh itu. Katanya kena saraf kejepit. Pas mau kena lumpuh badan saya anget. Pertamanya kaki kanan sakit enggak bisa buat jalan kaku. Terus kaki kiri juga dan tanggan saya enggak bisa digerakin, lemes," kata Aziz kepada lampost.co, Jumat (25/1/2019).

Aziz kini tinggal bersama sang ibu yang bekerja sebagai penjait dan kadang harus menjadi buruh harian untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Adik semata wayangnya masih berusia 1,5 tahun. Sementara sang ayah telah tiada.

Sejak tiga tahun lalu, sehari-harinya Aziz berkutat dengan pensil, spidol atau pewarna, kardus, kertas, dan penggaris. Diatas meja kecil sederhana yang ia miliki, Aziz perlahan menggoreskan pensilnya ke atas kertas untuk mendesain bangunan.

Berbagai desain bangunan dapat ia rancang. Mulai dari bangunan gedung sekolah, perkantoran, rumah hingga bangunan perhotelan lengkap dengan lokasi parkir. Aziz kemudian mengimplementasikan hasil goresannya ke dalam sebuah miniatur yang terbuat dari bahan sederhana atau kardus dan bambu.
Menurut Aziz, untuk menghasilkan satu buah desain perhotelan dengan luas lahan 1 haktare lengkap beserta miniaturnya dapat membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. 

"Kalau mendesaint hotel butuh waktu lama, karena kan harus detail, luas bangunannya, parkirnya. Belum lagi ngerancang bangunan hotel yang kira-kira unik. Belum lagi kan harus buat miniaturnya. Paling enggak butuh waktu 8 bulan sampai jadi. Tapi kalau ngedesain rumah minimalis, sebulan bisa selesai itu juga sudah sama miniaturnya," ujar dia.

Kini Aziz berhasil menciptakan puluhan desaint bangunan lengkap dengan miniaturnya. Dari hasil karyanya itu, Aziz tahun lalu sempat mengikuti kontes di Bandar Lampung mewakili Kabupaten Tulangbawang.

"Alhamdulillah pas kontes tahun 2018 itu, saya dapat uang, karena ada yang beli desainnya," ujar Aziz. 
Dia berharap, ada perhatian dari pemerintah. Sehingga cita-citanya menjadi arsitek profesional dapat terwujud. 

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR