LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 4 June
5368

Tags

LAMPUNG POST | Ideologi Negara Merapuh
Pancasila. krjogja.com

Ideologi Negara Merapuh

TIDAK cukup negeri ini setiap peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni  meneriakkan slogan: Pancasila sudah final atau NKRI harga mati. Faktanya? Banyak anak bangsa terjebak dengan ucapan karena masih berperilaku tidak terpuji. Aku pun terkekeh-kekeh membaca slogan kepala daerah; bersikap Bhinneka Tunggal Ika tetapi perilakunya sangat primordial, kedaerahan.
Meski anak bangsa mengakui Pancasila sebagai ideologi negara, masih juga ada kelompok terbius paham materialisme, konsumerisme, egoisme, hedonisme, primordialisme, dogmatisme, dan radikalisme. Saat ini sangat terasa, dalam menyelesaikan perbedaan atau konflik tidak lagi bersandar pada musyawarah dan mufakat . Yang ada hanyalah mengedepankan kekuatan otot dan nafsu, serta harga diri.
Ketika aku sekolah dasar, lalu SMP, dan SMA di 1980-an. Mata pelajaran Pancasila tidak boleh dapat angka lima (merah). Bisa-bisa tidak naik kelas. Bahkan saat kuliah pun masih diajarkan Pancasila ditambah Penataran P4.
Lagi-lagi nilainya minimal C (cukup).  Hasil? Bangsa ini memiliki pijakan yang sangat kokoh karena memiliki Pancasila sebagai panduan kehidupan.
Pancasila tidak bisa hanya dijadikan ideologi yang berwajah mistis ataupun politis. Namun, perlu ditransformasikan ke model aplikatif dalam kehidupan. Pancasila juga menjadi substansi dalam setiap kebijakan dan peraturan, mulai dari tingkat tertinggi sampai terendah. Dengan itulah,  Pancasila diterima karena mengakomodasi kepentingan semua elemen anak bangsa.
Contoh terkini, bom bunuh diri yang meledak di Kampung Melayu, Rabu (23/5), menegaskan kembali bahwa radikalisme berkembang menjadi terorisme karena berawal dari sikap intoleran. Padahal, dalam sila kedua Pancasila tersirat konsep kemanusiaan berisi nilai-nilai kesetaraan, toleransi, saling hormat lintas gender, agama, etnik, juga lintas bangsa.
Dalam pidato Soekarno pada  1 Juni 1945, mengurai makna konsep kemanusiaan di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BUPKI) sebagai salah satu dasar Indonesia merdeka. Para pendiri bangsa telah menegaskan Pancasila merupakan konsep bernegara yang terbaik dan diterima seluruh lapisan masyarakat. Namun akhir-akhir ini, Pancasila mulai rapuh sebagai dasar negara. Sebab telah bersemai virus yang berbahaya dan sangat mematikannya.
Virus apa itu? Sikap pesimisme, apatisme, dan fatalisme yang berujung pada politik identitas berwajah agama. Ini yang menafikan kebinekaan bangsa Indonesia.  Akhir tahun lalu, Mabes Polri mencatat kasus intoleransi selama ketiga tahun terus meningkat.
Pada 2016, terjadi 170 kasus terorisme . Jumlah itu naik drastis dari dua tahun sebelumnya. Pada 2015 terjadi 87 kasus dan 2014 hanya 76 kasus. Kenaikan angka itu menunjukkan semangat kebinekaan kian marjinal.  

***

Penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, hari libur nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tanggal 1 Juni 2016 sangat menginspirasi. Penetapan hari libur tersebut sama halnya dengan tanggal 17 Agustus. Bangsa ini libur untuk memperingati hari lahir negara Indonesia. Makna diliburkan? Karena bangsa ini harus merenungkan kembali, bahwa Pancasila sangat penting dalam kehidupan bernegara.
Seperti tumbuh suburnya praktik korupsi walau sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kejujuran dari antikorupsi merupakan bagian upaya mewujudkan sila kelima, berkeadilan sosial. Kejujuran merupakan bagian dari perbuatan baik di dunia yang akan diganjar akhirat.
Pejabat yang masih doyan korup dan melanggar peraturan merupakan contoh slogan bahwa Pancasila cuma megah di ruang kata-kata, tetapi rapuh di tingkat pelaksanaan. Dalam Alquran Surah As-Shaff Ayat 2—3 disebutkan: "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.
Banyak dari mereka yang korup berselimut kepentingan rakyat, akan dimintai pertanggungjawabannya. Korupsi amat jelas menghambat bangsa ini mencapai keadilan sosial. Alquran mengingatkan dalam Surah Al-Ahzab Ayat 72: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikul amanatnya, dan khawatir mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
Tidak salah kalau Pancasila yang sudah tergerus, kini bangkit dan hidup untuk anak bangsa. Setelah hari kelahirannya diliburkan, Joko Widodo lalu membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Unit baru yang dibentuk berdasarkan peraturan presiden itu sebuah jawaban dari kecemasan yang sangat dirasakan bangsa Indonesia.
Tentu unit kerja itu harus mampu bekerja lebih profesional dari Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) di era Orde Baru.  Zaman sudah jauh berubah, penghayatan terhadap penerapan ideologi Pancasila harus juga menyesuaikan perkembangan teknologi dan informasi.
Tantangan yang dihadapi bangsa ini terus berubah karena pengaruh dunia global. Oleh sebab itu, inovasilah yang dibutuhkan agar Pancasila tidak hanya slogan lagi. Penguatan ideologi negara itu menjadi bagian integral dari ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan yang dibangun saat ini. Jika terlambat berbuat, Indonesia menuju kehancuran.   ***

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv